Mengikhlaskan Dirimu

oleh -228 views

Aku menangis deras. Aku begitu syok mendengar kenyataan dari ibunya, tidak menyangka semua ini terjadi. Aku terlalu gegabah mengambil keputusan. Aku telah menyakiti dia, walaupun mungkin ini yang diharapkan olehnya. Jika aku tahu semua hal ini, tak pernah sesenti pun aku melepaskan cincin darinya. Aku akan mendampinginya sampai kapanpun.

Aku bangkit lalu berlari menuju ruangan tempat dia dirawat. Aku memeluknya erat, menangis deras berharap dia membuka matanya dan mendengar permintaan maafku. Kakaknya melihatku menangis, ikut menyeka ujung matanya yang basah.
“Kenapa kamu tidak menceritakan keadaanmu padaku? Kenapa?” Tanyaku setengah berteriak. Dia tetap tak sadarkan diri.

Seminggu kemudian
Selama seminggu ini aku selalu rajin menjenguknya. Aku selalu menatap tubuhnya yang terbaring lemah itu, berharap dia bangun dan melihatku ada disampingnya. Pada hari ke tiga, dia sempat sadar dan melihatku. Aku menangis penuh haru.

Baca Juga  Gunung Dukono Kembali Erupsi, Aktivitas Meningkat dalam Sepekan

“Kenapa kamu tidak menceritakan semua yang terjadi?.” Tanyaku sesenggukan menahan tangis.
“Maaf..” ucapnya dengan suara lirih.
“Aku yang harusnya meminta maaf padamu.. maafkan aku yang tidak mengetahui keadaanmu.” Ucapku, air mataku kembali mengalir. Tangannya bergerak menghapus air mata di pipiku, dengan lembut penuh perasaan.

No More Posts Available.

No more pages to load.