“Hubungan kita udah mau serius. Kita udah tunangan. Kenapa kamu ngelakuin hal menjijikan seperti ini?.” Ucapku menggebu-gebu. Dia diam sambil menatapku. Aku menangis, dia memberikan tisu namun aku menolaknya dengan kasar. Aku marah, aku kesal, aku ingin berteriak. Kenapa dia melakukan semua ini?.
Semenjak hari itu, aku lost contact dengannya. Sengaja aku menghilang. Aku tak mau berurusan dengannya lagi. Memang benar kata orang, cobaan orang yang akan menikah semakin banyak dan kompleks. Aku kini merasakannya. Ingin rasanya aku membuang cincin yang melingkar di jariku ini. Tapi sebaiknya aku mengembalikan cincin ini padanya, setidaknya benda ini dibeli dengan materi yang mati-matian ia cari.
Sebulan semenjak hari itu aku mengunjungi rumahnya. Aku hanya disambut ibunya, sedangkan ayahnya sudah tiada.
“Reza sedang di kamarnya nak, sebentar ibu panggilkan. Kamu duduk dulu ya” ucap ibunya ramah sekali padaku.
10 menit kemudian dia muncul ke ruang tamu, terkejut melihatku datang. Tatapan mata kami bertemu diudara. Wajahnya terlihat sedikit pucat dan badannya terlihat lebih kurus. Dia kemudian duduk di dekatku, aku menjaga jarak berpindah sejengkal. Dia diam saja.
“Aku kesini mau ngembaliin cincin yang sudah kamu kasih dulu.” Ucapku lalu menaruh cincin itu pada telapak tanganku lalu menyodorkannya pada dia. Dia menatap cincin itu, lalu menatapku. Agak lama.
“Aku nggak mau, itu buat kamu saja.” Ucapnya.
“Nggak, ini kamu beli pakai uang kamu. Aku udah ngga ada hak apa apa lagi.” Ucapku. Dia menggeleng.
“Buat kamu saja. Biar suatu saat kamu inget aku yang pernah jadi tunanganmu.” Ucapnya, lalu bibirnya sedikit tersenyum. Mataku berkaca-kaca, kemudian air mata mengalir di pipi. Aku terisak menangis di hadapannya.









