Dengan demikian, masuknya PKS akan menambah “energi” perjuangan bagi Koalisi Perubahan. Setidaknya “memperpanjang” napas Anies – Cak Imin di kala raihan elektabilitas di sejumlah jajak pendapat oleh berbagai lembaga survei, menempatkan Anies – Cak Imin di nomor buncit.
Konstelasi politik terus berproses
Kebulatan tekad PKS untuk tetap mendukung Anies Baswedan sepertinya menjadi “harga mati” bagi partai ini. PKS sadar, sikap politiknya yang selama satu dekade berada di luar pemerintahan Jokowi harus terus menabalkan diri sebagai kelompok “berseberangan”.
Tidak mudah untuk berubah haluan politik, misalnya PKS harus menyeberang ke koalisi pendukung Ganjar Pranowo atau bersatu dengan koalisi pendukung Prabowo Subianto mengingat ada “sempalan” PKS yang kini bernama Partai Gelora telah bergabung duluan di Koalisi Indonesia Maju bersama Gerindra, Golkar, PAN, serta Partai Bulan Bintang.
PKS tidak sekadar berharap mendapat berkah efek ekor jas dari Anies Baswedan – walau dalam berbagai survei ternyata nama Anies tidak memberi “keuntungan” efek ekor jas bagi PKS. Setidaknya, PKS berharap meraih peningkatan suara atau lebih realitis mempertahankan jumlah kursi yang diraihnya pada Pemilu 2019 lalu.
Berbeda dengan Demokrat yang memutuskan keluar dari Koalisi Perubahan dan kini tengah menjajaki kerja sama dengan koalisi-koalisi lain, PKS harus bergerak cepat menentukan diri.











