Aku mencengkam tangannya kuat-kuat. Wajahnya memucat bak orang mati. “Zel, bukan? Jangan katakan apa yang kau lihat malam ini kepada siapapun. Ini akan menjadi rahasia kita,” kataku, menahan rasa sakit dari luka yang rasanya seperti teriris. Dia mengangguk berulang kali.
“A-aku berjanji.”
Syukurlah. Ketakutan gadis itu menyelamatkanku. Sekarang, apa yang harus kulakukan dengan mayat itu? Dan, sepasang mata merah yang mengintip di sudut ruangan tergelap, dia harus kutarik dan membuatnya merasakan panasnya neraka.
—
Setahun sudah berlalu sejak malam itu. Kau mungkin tidak akan pernah menyangkanya, tetapi Zel dan aku telah membangun sebuah hubungan yang disebut keluarga. Ya, kami keluarga yang harmonis. Ditambah seorang anak kecil berusia lima tahun. Dia manis dengan bentuk mata seperti bulan sabit. Matanya cokelat dan bulat layaknya Zel. Rambut hitamnya bergelombang seolah menduplikat dariku.
Di hari yang cerah ini, aku mendapati punggung Zel yang sedang memotong berbagai sayuran di talenan. Aku mengintipnya dari balik koran, lalu menyesap kopi hitam dari cangkir berbahan keramik. Di sisi lain, Anak-ku berusaha menali sepatu sekolahnya sendiri di sampingku. Damainya hidupku saat ini.
“Mina, kau perlu bantuan?” tawarku, meletakkan lembaran koran di meja kaca dengan ukiran bunga yang indah. Kedua bola mata cokelatnya berbinar saat menatapku.
“Berhenti memanjakannya, Sayang!” sergah Zel, suara pisau yang menghantam talenan semakin keras, “Dia harus belajar mandiri.”
“Mama, kau jahat!” Rengekan Mina membuatku terkekeh pelan. Kulihat, Zel melepaskan ikatan celemek merah mudanya, lalu disampirkan ke meja makan setelah dilipat dengan jari-jarinya yang lembut. Dia menyudahi kegiatan memotong sayuran dan memasukkannya ke sebuah panci berisi air panas. Keringat mengucur dari lehernya dan aku merasa kasihan.











