Dari ilustrasi di atas, orang bertanya, mengapa Sherly terkesan “arogan dan ukur suka” mengangkat orang-orang dekat (misalnya ASN eksodus Morotai) pada jabatan-jabatan strategis? Promosi jabatan tanpa pertimbangan Baperjakat dan sarat nuansa politis. Kebijakan konyol ini bisa digambarkan sebagai siasat lihai Sherly untuk menguasai segala sumberdaya dalam birokrasi pemerintahan.
Ternyata benar, tepat bahwa kekuasaan itu begitu menggoda. “Tidak selaras dengan apa yang pernah diucapkan”. Birokrasi Pemprov Maluku Utara tak ubahnya seperti sirkus. Penuh dagelan dan akrobat yang dimainkan oleh badut kekuasaan.
Mulai dari program efisiensi yang tertutup tanpa melibatkan DPRD, dan lebih miris lagi Sherly sepertinya lebih fokus mengurusi kelompoknya sendiri sebagai program priorias. Terjadi krisis perubahan, karenaa reformasi birokrasi tidak berjalan dan cuma jadi jargon atau instrumen pencitraan.
***
Pemimpin berintegritas itu tidak berbohong. Kemarin bicara lantang tentang meritokrasi, hari ini angkat kroni-kroninya. Dan sudah jadi buah bibir bahwa Sherly adalah pemimpin yang tidak punya assertive – tidak tegas. Padahal apa yang diucapkan itu, harusnya yang dilakukan. Tidak jelas orientasi kepemimpinannya; dari apa yang penting dan prioritas, serta mana kebutuhan dan keinginan? Pentingnya perubahan mindset atau pola pikir pemimpin untuk mampu keluar dari jebakan lazy organization – birokrasi yang malas berubah.











