Satu keputusan kabarnya disepakati: Ketua Umum diminta mengundurkan diri karena langkah diplomasi ke Israel dianggap mencederai marwah umat dan menyalahi visi-misi organisasi.
Tidak ada yang tahu berapa gelas kopi yang tertuang dalam proses perdebatan itu. Tapi yang jelas, tidak sedikit jamaah jauh di luar ruangan langsung merasa seperti analis CIA —komentarnya yakin, datanya entah dari mana.
Di titik ini, kita hanya bisa menunduk sebentar menyimak betapa politik dan moral kalau sudah bersilang urat, bisa membuat meja rapat serasa medan tempur. Makin ribut lagi karena pak Yahya menegaskan tak akan mundur.
Meskipun, di tengah kemelut, ada saja warga netizen yang bilang: Ah, ribut-ribut NU itu cuma sandiwara saja, cari perhatian, atau sekalian pemanasan sebelum nanti muktamar.
Di saat hiruk-pikuk itu menyebar, memori sejarah mendadak muncul seperti notifikasi di layar ponsel: bukankah dulu almarhum Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), saat masih memimpin PBNU, juga menjalin komunikasi dengan Shimon Peres, bahkan Yitzhak Rabin sebelum dibunuh?
Waktu itu publik juga heboh, tapi polanya berbeda. Mungkin karena zamannya lain, tokohnya lain, konteksnya lain. Dan jangan lupa, media sosial belum ada, jadi tak ada yang bisa bikin twit panjang layaknya ahli diplomasi lintas benua.











