Oleh: Dino Umahuk, Sastrawan, jurnalis, dan aktivis perdamaian
Di Maluku, tanah yang disiram iman dan disulam dalam tenun keberagaman, kata-kata bukan sekadar bunyi. Ia warisan nilai. Ia cermin akal dan nurani. Karena itu, dalam budaya tutur kita, peribahasa “mulutmu harimaumu” tak pernah usang. Ia adalah peringatan sekaligus perisai: bahwa kata-kata bisa menyelamatkan, tapi juga bisa mencelakakan.
Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath, tampaknya lupa pada kearifan ini. Dua kali dalam hitungan bulan, lidahnya terpleset. Dan dua kali pula, luka menganga di hati umat beragama di Maluku—khususnya umat Islam.
Dari Puasa ke Inflasi: Saat Ibadah Diseret ke Meja Statistik
Pada Maret 2025, Vanath menyatakan bahwa puasa Ramadan dapat menyebabkan inflasi. Alasannya sederhana tapi menyesatkan: karena umat Muslim menahan lapar di siang hari dan konsumtif di malam hari. “Kita harus waspadai pola konsumsi seperti ini,” katanya dalam satu acara resmi.
Ucapan itu viral. Tidak hanya karena absurd, tapi juga karena menyentuh wilayah paling sakral: ibadah.
Sejak kapan puasa menjadi variabel dalam kenaikan harga barang? Sejak kapan ibadah menjadi kambing hitam dalam logika ekonomi negara? Tidakkah ia tahu bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi juga menumbuhkan solidaritas, menekan konsumsi, dan mendorong zakat serta sedekah?









