Natsir dan Noda Tinta di Kantong Kemeja

oleh -9 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Kesederhanaan memang tidak selalu identik dengan kemiskinan. Seseorang bisa hidup sederhana justru karena memiliki kebebasan untuk memilih, bukan karena tidak mempunyai pilihan. Kesederhanaan semacam itu lahir dari keyakinan bahwa kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh apa yang dimilikinya, melainkan oleh kemampuannya menahan diri dari godaan memiliki lebih dari yang semestinya.

Mohammad Natsir (1908–1993) adalah salah seorang yang menjalani pilihan hidup itu dengan konsisten. Jabatan sebagai Menteri Penerangan dan kemudian Perdana Menteri Republik Indonesia tidak mengubah cara hidupnya. Ia tetap tampil sebagaimana adanya, tanpa merasa perlu menyesuaikan penampilannya dengan kebesaran jabatan yang diemban.

George McTurnan Kahin, Indonesianis terkemuka asal Amerika Serikat, menyimpan kesan yang tak pernah hilang dari pertemuan pertamanya dengan Natsir di Yogyakarta pada awal masa republik. Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangannya, Kahin menulis, “Ia memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah mana pun.”

Bagi Kahin, pemandangan itu mengejutkan. Di hadapannya berdiri seorang menteri dari sebuah negara yang baru merdeka, tetapi yang lebih menarik perhatiannya justru bukan kewibawaan jabatan itu. Tertangkap dimatanya kemeja bertambal yang dikenakan dengan begitu wajar, seolah tidak ada sesuatu yang perlu disembunyikan. Mungkin Kahin mengira itu adalah potret sebuah republik yang masih serba kekurangan. Namun, waktu kemudian menunjukkan bahwa kesederhanaan itu bukan milik suatu zaman. Ia adalah watak Mohammad Natsir.

No More Posts Available.

No more pages to load.