Natsir dan Noda Tinta di Kantong Kemeja

oleh -16 views

Namun, kesederhanaan Natsir tidak berhenti pada cara berpakaian. Ia menjelma menjadi cara memandang harta, jabatan, bahkan dirinya sendiri.

Suatu hari, sebuah Chevrolet Impala berhenti di depan rumah keluarga Natsir di Jalan Jawa 28—kini Jalan H.O.S. Cokroaminoto—Jakarta Pusat. Mobil itu bukan sekadar bertamu. Seorang tamu dari Medan datang dengan maksud menghadiahkannya kepada Natsir. Saat itu ia adalah anggota Parlemen sekaligus Ketua Fraksi Partai Masyumi. Mobil pribadinya hanyalah sebuah DeSoto tua yang kusam dimakan usia.

Di dalam rumah, anak-anak Natsir diam-diam mencuri dengar dari balik pintu. Mata mereka sesekali melirik ke arah Impala yang terparkir di halaman. Barangkali mereka membayangkan bagaimana rasanya duduk di dalam mobil besar dan mengilap itu. Harapan mereka sederhana: semoga kali ini ayah menerima hadiah tersebut.

Baca Juga  Soroti Kinerja Sufari, Praktisi Hukum Sebut Tujuh Kasus Korupsi Jadi Pekerjaan Rumah Kajati Malut yang Baru

Harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan.

Dengan tutur kata yang tetap halus, tanpa sedikit pun menyinggung perasaan tamunya, Natsir menolak pemberian itu.

Setelah tamunya pamit, Natsir menoleh kepada anak-anaknya yang sejak tadi mencuri dengar dari balik pintu. Dengan suara tenang ia berkata, “Mobil itu bukan hak kita. Lagi pula, mobil yang ada masih cukup.”

No More Posts Available.

No more pages to load.