Cara pandang itu seolah menyatu dengan kehidupan pribadinya. Yusril Ihza Mahendra, yang pernah menjadi salah seorang staf pribadi Natsir, mengenang bahwa Pak Natsir hampir selalu datang ke kantor Dewan Da’wah dengan baju yang itu-itu saja. Ia hanya memiliki tiga stel baju koko yang dikenakan bergantian—putih, biru muda, dan krem muda. Salah satunya bahkan memiliki noda tinta yang cukup lebar di bagian kantong. Baju itu tetap dikenakannya seperti biasa, tanpa sedikit pun merasa risih.
Barangkali di situlah letak makna noda tinta itu. Ia memang tak lagi dapat dihapus dari kantong kemeja itu. Namun, Natsir tidak pernah merasa perlu mengganti bajunya hanya demi menyembunyikan bekas tersebut. Seolah ia ingin mengatakan, yang patut dijaga bukanlah kesempurnaan penampilan, melainkan kejujuran dalam menjalani kehidupan.
Ketika Mohammad Natsir wafat pada 6 Februari 1993, ia tidak meninggalkan kekayaan yang berlimpah. Harta yang diwariskannya kepada kelima anaknya hanyalah rumah tempat keluarganya tinggal di Jalan H.O.S. Cokroaminoto, Jakarta Pusat. Setahun kemudian, rumah itu dijual karena anak-anaknya tidak sanggup membayar pajaknya.
Barangkali ada yang melihat kisah itu sebagai akhir yang sederhana bagi seorang mantan Perdana Menteri. Namun, justru di situlah letak kebesaran Natsir. Ia tidak mewariskan kemewahan kepada keluarganya, tetapi meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga: nama baik, keteladanan, dan integritas yang tetap dikenang melampaui zamannya.









