Negeri Para Koruptor

oleh -35 views

Salah satu tipologi yang dikemukakannya adalah korupsi transaktif: praktik korupsi yang berlangsung atas dasar kesepakatan antara dua pihak atau lebih yang sama-sama sadar sedang melanggar hukum dan sama-sama menikmati keuntungan.
Dalam situasi seperti itu, korupsi tidak lagi menyerupai pencurian yang dilakukan diam-diam.
Ia berubah menjadi transaksi yang terorganisasi.

Karena itulah, korupsi selalu menghadirkan lebih dari satu pelaku. Ada pemberi dan penerima. Ada pelindung dan yang dilindungi. Ada jaringan yang bekerja dalam senyap, saling menopang agar praktik itu terus berlangsung. Menangkap satu orang memang penting, tetapi tidak otomatis memutus mata rantai yang melahirkannya.

Di sinilah ironi itu terasa.
Setiap operasi tangkap tangan memberi harapan bahwa hukum masih bekerja. Namun pada saat yang sama, ia juga memperlihatkan betapa dalam akar korupsi telah menghunjam ke dalam kehidupan publik: yang tertangkap adalah pelakunya, sedangkan sistem yang memeliharanya sering kali tetap berdiri.

Baca Juga  Menakar Kasus Febri-Don Ritto: Antara Tekanan Publik, Pembuktian dan Skenario Kompromi

Korupsi selalu menemukan tanah yang subur ketika kekuasaan kehilangan rasa malu. Ketika jabatan lebih dipandang sebagai hak istimewa daripada amanah. Ketika kedekatan lebih dihargai daripada integritas. Dalam keadaan seperti itu, korupsi tidak lagi hadir sebagai penyimpangan, melainkan perlahan menjelma menjadi kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi kekuasaan ke generasi berikutnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.