“Kementerian-kementerian seperti ESDM sudah tidak perlu lagi cari pakai data-data seismik yang mungkin sangat lama. Kalau kita kan punya peralatan modern juga, ada kamera di bawah laut yang juga bisa mengambil (data) dasar-dasar laut,” tutur dia.
Lebih lanjut kata Nurhidayat, temuan dari Pushidrosal TNI AL itu telah ditindaklanjuti oleh Kementerian ESDM. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sudah datang ke kantor Pushidrosal terkait temuan baru gunung api bawah laut di Laut Banda. Mereka ingin memetakan potensi tsunami bila gunung itu sewaktu-waktu meletus.
“Itu yang membuat Badan Vulkanologi itu datang ke kami. Mereka bertanya bisa gak ngitung kalau misalnya gunung tersebut meletus kan nanti terjadi tsunami. Di pulau-pulau mana yang tsunaminya paling besar, kemudian yang paling tinggi, dan penduduknya bagaimana nanti kalau diungsikan,” ujar Nurhidayat.
Pushidrosal kemudian melakukan analisa soal potensi tsunami bila gunung api bawah laut itu meletus sesuai permintaan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
“Kami bisa hitung ke mana arah larinya air, kemudian berapa besar dia naik pada saat di pantai. Nah, di situlah akan ketahuan berapa tingginya tsunami. Itu sudah kami hitung. Badan Vulkanologi bersama-sama dengan Pushidorsal akan mengecek kembali,” tutur dia.




