Ngeri! Ada 10 Gunung Api di Bawah Laut Banda, Kapal TNI AL Juga Temukan Hal Aneh

oleh -808 views
Link Banner

Porostimur.com, Jakarta – Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) mengungkapkan, timnya menemukan gunung bawah laut ketika melakukan ekspedisi menuju ke perairan Banda, Maluku.

Komandan Pushidrosal Laksamana Madya TNI Nurhidayat mengatakan, jumlah gunung api bawah laut yang ditemukan di Laut Banda mencapai 10 buah. Ke-10 gunung api bawah laut itu pun sudah diberikan nama. 

“Ada 10 (gunung api bawah laut yang ditemukan), tapi yang diterima (namanya) baru delapan karena dua (gunung api bawah laut) masih belum lengkap. Jadi lerengnya itu belum kelihatan. Ini yang akan diambil lagi,” ujar Nurhidayat dalam pertemuan Hydrographic Service and Standards Committee di Kuta, Bali, di Kuta, Bali pada 17 Mei 2022 lalu. 

“Nah ada yang namanya Aurora, ada yang namanya Yudo (Sagoro), Moro Gada, terus ada Gapuro Sagoro,” sambungnya

Nurhidayat menjelaskan, temuan 10 gunung api bawah laut tersebut melalui proses panjang.

Sebelumnya, Belanda pada 1990-an sudah pernah melakukan ekspedisi Snellius di Laut Banda. Lalu, ada ekspedisi Jalacitra I ‘Aurora’ pada 2021. Ketika melewati Laut Banda, TNI AL menemukan hal yang aneh. 

“Kemarin (saat ekspedisi Jalacitra I ‘Aurora’ 2021) kami coba (lewati). Saat kami melintas kok ada yang aneh. Tapi, tujuan kami bukan di situ, karena memang ada yang lebih penting. Pada saat kami harus melihat gunung-gunung yang banyak di daerah Halmahera ternyata betul kami dapatkan (gunung api bawah laut),” katanya.

Nurhidayat menjelaskan, KRI Rigel-933 berlayar dari dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Tanjung Priok, Jakarta Utara, 16 Juni 2022 lalu untuk melakukan ekspedisi Jala Citra 2-2022 “Banda”. Namun, KRI Rigel telah berhasil mendeteksi keberadaan gunung bawah laut itu sebelum tiba di Banda. 

Baca Juga  Dukung Penerapan PKM, Dinkes Kota Ambon Gencar Lakukan Sosialisasi

“KRI Rigel yang baru saja melintas dan belum sampai Banda, itu sudah menemukan gunung baru,” ujar Nurhidayat dalam acara peluncuran buku hasil ekspedisi Jala Citra 1 bertajuk ‘Menguak Kekayaan Bawah Laut Indonesia’ seperti dikutip dari kantor berita ANTARA, Selasa (28/6/2022). 

Ia mengatakan, ketinggian gunung bawah laut diperkirakan mencapai 2,4 kilometer. Sementara, kedalaman lereng atau kaki gunung mencapai 3,5 kilometer dari permukaan laut. Sedangkan, puncaknya berada di kedalaman 1 kilometer dari permukaan laut. 

“Jadi, bisa dibayangkan, ketinggian gunung itu mencapai 2.400 meter. Apakah itu gunung berapi? Apakah nanti akan terjadi letusan? Kalau misalkan terjadi letusan, arahnya ke mana?” kata dia. 

Ia menambahkan, temuan gunung bawah laut itu akan diteliti lebih lanjut oleh para akademisi. Sebelumnya, para akademisi itu juga sudah membuat jurnal mengenai temuan gunung di bawah laut. 

Apa dampaknya temuan gunung baru bawah laut di Indonesia bagi peta perairan Indonesia?

TNI AL Juga Temukan Massa Air Purba di Laut Banda

Kapal TNI AL Temukan Gunung Api Bawah Laut di Banda, Total Ada 10 
Ilustrasi Laut Banda, Maluku (Tangkapan layar Google Map)

Selain menemukan gunung bawah laut, di dalam ekspedisi Jalacitra I pada 2021 lalu, TNI AL juga menemukan massa air purba. Massa air purba adalah gunung di dalam laut yang mengeluarkan lava dan material-material panas. Tetapi, material itu tidak bisa keluar sehingga membentuk lubang besar. 

Baca Juga  MRP: Negara Wajib Menjawab Pertanyaan PBB Soal Kekerasan di Papua, Tidak Boleh Disembunyikan

“Jadi, kayak lubang besar di dalam yang karena panasnya tidak bisa keluar. Artinya, panas itu segera dingin sehingga terjadi kayak lubang besar di dalam. Ini akan ambil lagi (dokumentasi) sehingga lebih rigit,” ungkap Nurhidayat.

Sementara, terkait penamaan 10 gunung api bawah laut, sudah diserahkan kepada badan PBB untuk urusan kebudayaan, UNESCO. Saat ini yang sudah diterima sebanyak 8 nama. 

Ekspedisi TNI AL kemudian dilanjutkan oleh Jalacitra II di alur Laut Banda. TNI AL mengajak 88 orang peneliti. 

“Kami ke sana lagi. Sejauh ini sudah ada 88 peneliti profesor hingga doktor di seluruh universitas yang mau ikut. Jadi, mungkin ada beberapa yang ikut di kapal, tetapi ada pula yang langsung ikut ke Banda. Nanti, hasilnya bila sudah siap akan dipaparkan di Universitas Pattimura,” kata dia. 

Ia juga menjelaskan manfaat dari ekspedisi yang dilakukan oleh TNI AL. Salah satunya untuk mengetahui daerah mana yang rawan dan mana yang bisa dieksplorasi. Hasil ekspedisi itu juga bakal mempermudah kinerja sejumlah kementerian, termasuk Kementerian ESDM. 

“Kementerian-kementerian seperti ESDM sudah tidak perlu lagi cari pakai data-data seismik yang mungkin sangat lama. Kalau kita kan punya peralatan modern juga, ada kamera di bawah laut yang juga bisa mengambil (data) dasar-dasar laut,” tutur dia. 

Lebih lanjut kata Nurhidayat, temuan dari Pushidrosal TNI AL itu telah ditindaklanjuti oleh Kementerian ESDM. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sudah datang ke kantor Pushidrosal terkait temuan baru gunung api bawah laut di Laut Banda. Mereka ingin memetakan potensi tsunami bila gunung itu sewaktu-waktu meletus. 

Baca Juga  Seharusnya Pesta Juara, Eh Juventus Malah Kalah

“Itu yang membuat Badan Vulkanologi itu datang ke kami. Mereka bertanya bisa gak ngitung kalau misalnya gunung tersebut meletus kan nanti terjadi tsunami. Di pulau-pulau mana yang tsunaminya paling besar, kemudian yang paling tinggi, dan penduduknya bagaimana nanti kalau diungsikan,” ujar Nurhidayat.

Pushidrosal kemudian melakukan analisa soal potensi tsunami bila gunung api bawah laut itu meletus sesuai permintaan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

“Kami bisa hitung ke mana arah larinya air, kemudian berapa besar dia naik pada saat di pantai. Nah, di situlah akan ketahuan berapa tingginya tsunami. Itu sudah kami hitung. Badan Vulkanologi bersama-sama dengan Pushidorsal akan mengecek kembali,” tutur dia.

Ia menambahkan, Pushidrosal akan fokus penelitian di wilayah timur. Sebab, potensi gunung api bawah laut masih banyak yang bisa diidentifikasi di wilayah timur Indonesia. Sebab, masih banyak getaran akibat gempa vulkanik, namun hingga kini sumbernya tak dapat ditemukan. 

“Beberapa ahli itu menyampaikan ada getaran yang misterius, sering gempa, gempanya ini vulkanik. Tapi kok bisa tidak ketemu, itu sumbernya dari mana. Itu kemungkinan karena kedalaman getarannya lebih dari 5 ribu kilometer di bawah laut,” katanya lagi. 

(red/idn-times)