Nostalgia Yongki Kastanya, Jong Ambon Andalan Persebaya Era 1980-an

oleh -27 views
Link Banner

Porostimur.com | Surabaya: Persebaya Surabaya masuk dalam jajaran tim besar Indonesia yang sarat akan sejarah panjang sejak era Perserikatan.

Bicara pemain, sudah banyak penggawa Bajul Ijo dari masa ke masa yang bersinar terang. Kiprah menawan yang diiringi dengan kesuksesan membawa gelar juara bagi tim pujaan Bonekmania.

Pada era 1980-an, ada satu sosok pemain Persebaya yang menarik perhatian besar, yakni Andreas Johanes Kastanja atau yang akrab disapa Yongki Kastanya. Pria asal Ambon, Maluku, yang bisa dikatakan menjadi satu di antara legenda Persebaya.

Ia merupakan salah satu kepingan skuad hebat Persebaya ketika menjuarai kompetisi Perserikatan di tahun 1987-1988. Saat itu Persebaya juara setelah mengalahkan Persija Jakarta 3-2 pada partai puncak.

Namun tak banyak yang tahu tentang perjalanan Yongki Kastanya, yang berasal dari Ambon. Ia bisa menembus tim inti dan menjadi penting di Persebaya Surabaya. Bakatnya bermain bola memang terlahir secara alami, hingga menjadi seorang gelandang paling disegani dari Persebaya kala itu.

Baca Juga  Rapat Umum Berujung Pengancaman, Warga Capalulu Laporkan Putra Kades ke Polres Kepulauan Sula

“Awal mulai saya belajar main bola sejak SD dan SMP dengan berlatih sendiri. Kebetulan di depan rumah ada stadion Mandala Remaja. Lalu saya gabung dengan tim milik orang tua Rochi Putiray kelas 1 SMP tahun 1978,” kata  Yongki Kastanya dalam kanal YouTube Omah Bal-balan, bulan lalu.

Adaptasi Budaya

Bakatnya mulai terasah ketika bermain di klub PSA Ambon. Klub internal Persebaya Surabaya, Assyabaab yang menemukan potensi besarnya. Assyabaab berkunjung ke Ambon dan Yongki masuk dalam seleksi saat itu.

“Awal latihan hanya lari-lari, tendang-tendang bola, belum dilatih seperti posisi pemain, tidak seperti sekarang. Lalu masuk PSA Ambon kelas 3 SMP, lawan Assyabaab yang lagi tur ke Ambon. Sekaligus pintu masuk saya ke Surabaya. Mungkin melihat saya potensial, untuk itu harus ke Jawa (Surabaya),” ujarnya.

Yongki dengan latar belakang berasal dari Maluku dan keluarga nasrani, harus beradaptasi dengan lingkungan barunya di Assyabaab. Sebuah tim yang bentukan orang-orang Arab di Surabaya dan mayoritas muslim. Meski tak mudah, ia menjalani penyesuaian dengan baik hingga berhasil menjadi pemain penting sebelum akhirnya ‘naik kelas’ ke Persebaya.

Baca Juga  Sambut HUT RI Ke75, Lanal Ternate Gelar Pengibaran Bendera Merah Putih Bawah Laut

“Saya sempat bertanya dalam hati apakah pas ada di tim ini? Ternyata banyak orang arab-arab dari Ambon yang secara dialek sama dengan tempat tinggal saya. Jadi tidak merasa jauh atau asing, meski secara iman kita berbeda. Saya harus bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri sebagai pendatang,” ungkapnya.

“Pernah ditunjuk sebagai kapten Assyabab saat kompetisi internal Surabaya. Setiap bulan Ramadan saya juga harus menyesuaikan, dan ikut puasa,” beber Yongki. 

Kenangan Tak Terlupakan

Yongki Kastanya

Legenda Persebaya Surabaya di era 1980-an, Yongki Kastanya. (Tangkapan layar YouTube Omah Bal-balan)

Bertahun-tahun menjalani karier di Surabaya bersama Persebaya, ia berhasil menemukan kesuksesan. Kariernya naik dari bawah untuk menjadi pemain andalan Persebaya. Hanya dalam tiga tahun ia mampu membawa Persebaya menjadi juara ketiga Perserikatan dan untuk pertama kalinya Yongki tampil di Stadion Senayan.

Baca Juga  Hengkang ke Nasdem, GSVL pun dibehentikan tidak hormat oleh Demokrat

Periode tahun 1985-1986, ia terpaksa absen bermain untuk Persebaya. Lantaran mayoritas pemain diambil dari Suryanaga. Terpaksa ia menunggu musim berikutnya untuk kembali ke Persebaya.

Hingga sebuah kenangan yang sulit dilupakannya terjadi pada musim 1987. Ia berhasil membawa timnya ke final Perserikatan melawan musuh bebuyutan PSIS Semarang yang dibintangi Ribut Waidi.

Kondisi Yongki Kastanya saat itu sedang sakit sehingga ia absen di partai final, yang berujung pada kekalahan atas PSIS. Menariknya ia dipaksa bermain di semifinal untuk menyingkirkan PSM Makassar dalam keadaan sakit cukup parah.

“Saya kelelahan, panas tinggi sebelum lawan PSM di semifinal. Saya dipaksa main walau sedang sakit, kami lolos ke final, tapi saya ke rumah sakit. Meski kalah di final dari PSIS, saya menebusnya tahun berikutnya dengan gelar juara,” kenang Yongki Kastanya.

(red/bola.com)

No More Posts Available.

No more pages to load.