Hemat saya, gelar “Jou Barakati” atau Tuan Yang Diberkati pada sosok Nuku tidak begitu saja disematkan. Tentu terdapat aspek lain yang menjadikan tokoh yang disegani VOC ini memperoleh gelar tersebut. Muridan mencoba membandingkan Pangeran Nuku dan Pangeran Diponegoro :
“Diponegoro harus ditempatkan dalam kategori berbeda. Karakter tokoh dan pemberontakannya yang milenarianisme tidak disangsikan lagi. Walaupun ia merupakan putra seorang sultan, Diponegoro dibesarkan di luar istana. Dikelilingi oleh para guru agama, ia tumbuh sebagai pangeran yang sangat religius yang terwarnai oleh ide-ide mistik tingkat tinggi.”²
Pendukung fanatiknya bahkan menyebut Pangeran Diponegoro sebagai “Ratu Adil”, raja penyelamat yang telah lama ditunggu. Sebaliknya menurut Muridan, ciri-ciri milenarianisme sangat sedikit ditemukan pada Pengeran Nuku walaupun Andaya berpendapat bahwa Pangeran Nuku memiliki semacam mana³ karena ia disebut Jou Barakati di kalangan orang Maluku.
Setelah membuktikan diri melalui perjuangan selama hampir 20 tahun melawan Belanda, orang-orang Maluku Utara percaya bahwa Sang Pangeran benar-benar diberkahi dengan kekuatan supranatural. Namun di paragraf lain, Muridan memberi stetmen yang barangkali rekognisi atas pencapaian sang tokoh :








