Muridan mengutip salah satu sumber Belanda tertanggal 13 Juli 1797 menyebutkan :
“Pangeran Nuku kuat meminum arak dan mabuk setiap hari. Selama waktu yang dihabiskannya di Benteng (Tahula) di Tidore ia dikelilingi 12 pengawal pribadi yang bersenjatakan pedang dan perisai karena kecilnya rasa percayanya terhadap semua orang Tidore. Pangeran Nuku memerintahkan agar seorang Ngofamanjira tertentu dari Makian diikatkan ke mulut sebuah kanon yang dimuati dengan amunisi dan sebatang kayu lalary dan meminta kanon tersebut ditembakkan. Tubuh orang ini tercabik-cabik dan tersebar ke empat penjuru mata angin.”⁶
Selanjutnya Muridan menjelaskan bahwa pemberontakannya yang panjang membuat Nuku selalu diperhadapkan dengan ancaman dan pengkhianatan yang membuat ia terlalu berhati-hati dan dalam kondisi tertentu ia sangat kejam. Ia menghukum siapa saja yang dianggap berkhianat dan tidak setia sebagai contoh sekaligus rasa takut dan kesetiaan para pengikutnya.⁷
Sampai disini kita tidak menyaksikan penjelasan sisi mistik yang dimiliki Pangeran Nuku. Maka saya mencoba untuk menelusurinya dari uraian Muridan di bab-bab lain di bukunya tersebut sekaligus membandingkan dengan sumber-sumber lain yang relevan. (bersambung)








