Obor Sherly Tjoanda: Menerangi atau Sekadar Menyilaukan Tanah Maluku Utara?

oleh -1,088 views

Melampaui Citra: Menanti Output di Tengah Ruang Gema Media

Di era media sosial, kepemimpinan tidak hanya diukur dari kebijakan, tetapi juga dari persepsi publik, di mana sorotan media dan viralitas dapat memperkuat legitimasi, tetapi juga berpotensi mengaburkan substansi kebijakan. Tantangan bagi pemimpin daerah adalah memastikan bahwa popularitas tidak menggantikan akuntabilitas, seperti komunikasi publik yang harus berupa dialog, bukan monolog, dengan membuka ruang dialog seluas-luasnya dengan mahasiswa, akademisi, dan aktivis di Maluku Utara. Jangan sampai popularitas yang tinggi saat ini menciptakan “ruang gema” yang membuat pemimpin merasa selalu benar, di mana kritik harus dipandang sebagai bahan bakar untuk membuat api obor tetap stabil, bukan dianggap sebagai upaya untuk mematikan cahaya.

Baca Juga  Buka LK III HMI Nasional di Ambon, Gubernur Maluku Ajak Kader Jadi Pelopor Pembangunan

Dalam sebuah wawancara pada acara talkshow ROSI di kompastv yang viral baru-baru ini, Sherly Tjoanda ditanya tentang fenomena pencitraan di media sosial, di mana ia menegaskan bahwa apa yang ia lakukan bukanlah membangun citra palsu, melainkan bentuk publikasi dan pertanggungjawaban kepada masyarakat atas apa yang benar-benar ia kerjakan. Ia juga mendefinisikan pencitraan sebagai tindakan mengatakan sesuatu tanpa melakukannya, sementara ia fokus pada transparansi untuk memastikan publik mengetahui kinerja pemerintah dalam efisiensi anggaran, pendidikan, dan kesehatan. Ia juga menyatakan tidak membutuhkan validasi orang lain untuk disukai, melainkan fokus pada output hasil kerja untuk kepuasan diri dalam menjalankan amanah, sambil tetap menerima kritik dan masukan dari aktivis atau LSM sebagai bagian dari proses demokrasi dan perbaikan kinerja.

No More Posts Available.

No more pages to load.