Optimasi Digital Tourism Dengan Google Maps

oleh -32 views

Oleh: A. J. Ricolat Ufie, dosen pada Jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Ambon; Google Local Guide Level 7

Kepulauan Maluku mempunyai banyak sekali objek wisata.   Alam yang indah dan bersih, kehidupan masyarakat dengan budaya yang unik, sungguh menarik bagi wisatawan, peneliti, hingga wartawan. 

Berbagai upaya memikat wisatawan asing dan mancanegara sudah dilakukan pemerintah.  Pembangunan infrastruktur dan berbagai program pembangunan pariwisata sudah dilakukan.   Namun, sebaran objek wisata di wilayah Seribu Pulau dengan akses yang sulit, minim informasi, menjadi masalah tersendiri. 

Di tengah berbagai upaya oleh pemerintah, dunia usaha,  dan masyarakat memajukan pariwisata, sudah tentu kemajuan teknologi informasi perlu dikerahkan untuk menopang pengembangan pariwisata secara progresif.   Pengelola pariwisata sudah harus melompat ke dunia digital yang sudah tak terhindarkan lagi.  Salah satunya melalui optimasi digital tourism dengan Google Maps.

Google Maps yang diluncurkan oleh Google sejak 8 Februari 2005 tak ayal merupakan platform navigasi terpopuler di dunia. Google Maps menyajikan peta online gratis yang dapat diakses melalui browser web maupun perangkat mobile.

Laporan Enterprise Apps Today (2023) menunjukkan bahwa Google Maps telah digunakan oleh lebih dari satu miliar orang tiap bulan, telah memfasilitasi lebih dari 1 miliar kilometer perjalanan tiap hari, telah membantu meningkatkan visibilitas usaha lokal, dan berbagai keunggulan lain. Google Maps sendiri merupakan aplikasi Google terpopuler ketiga didunia.

Baca Juga  Website KPU Diduga Bermasalah, Suara Caleg DPRD Maluku Dapil Kota Ambon Banyak Hilang

Di sisi lain, Google Maps memiliki Google Maps API (Application Programming Interface) yakni pengembangan teknologi untuk menanamkan Google Maps pada suatu aplikasi yang tidak dibuat oleh Google. Sebagai salah satu API yang paling banyak digunakan di dunia, beberapa perusahaan besar diketahui menggunakan Google Maps API, sebut saja Gojek, Grab, dan Uber.

Beberapa fitur Google Maps yang dapat digunakan di antaranya (1) melakukan pencarian berdasarkan nama, jenis, ataupun titik koordinat, (2) menemukan petunjuk arah, (3) menemukan informasi dengan cepat, (4) street view (tampilan jalan), (5) memberikan ulasan dan rating, (6) menambahkan foto dan video pendek, (7) menambahkan tempat yang belum ada, (8) melakukan perubahan atas tempat yang telah ada di peta, (9) jelajahi sekitar untuk menampilkan wilayah di sekitar lokasi, dan sebagainya.

Fitur Google Maps memungkinkan pengguna berkontribusi dalam penyempurnaannya. Pengguna dapat memasukkan data yang selanjutnya menjadi informasi bagi pengguna lain. Kontributor tersebut dinamai Google Local Guide yang secara sederhana diartikan sebagai komunitas global yang menulis ulasan, berbagi foto, menjawab pertanyaan, menambah atau mengedit tempat, dan memeriksa fakta di Google Maps. Pada Maret 2018, tercatat lebih dari 140 juta informasi yang diberikan oleh pengguna Google Maps dari Indonesia (Detik).

Baca Juga  JMSI dan SiberMu Tandatangani MoU Dukung Pendidikan Jarak Jauh

Dengan segala kelebihan fitur yang dimiliki, bukan berarti Google Maps tanpa masalah. Telah banyak cerita terkait kekeliruan tempat di Google Maps. Salah satunya adalah Nick, seorang YouTuber asal Amerika Serikat, sempat “nyasar” di Ambon ketika mengikuti titik tempat di Google Maps. Perjalanannya dapat dilihat pada video berjudul “Selamat datang di AMBON, First Impressions” pada kanal YouTube miliknya dengan nama “Nick K”.

Google Maps memungkinkan pengguna menambahkan tempat namun keakuratannya tergantung pada kemampuan pengguna. Akan bermasalah ketika tempat yang ditambahan keliru, dan tidak ada perbaikan dari pengguna lain yang mengetahui keadaan sebenarnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan kontributor berpengalaman yang secara serius menjadi Google Local Guide untuk  membantu penyempurnaan peta digital tersebut.

Terlebih, publikasi Kompas (2018) yang menampilkan hasil riset digital dari Dwidayatour terhadap 1.700 warganet menunjukkan bahwa dalam kaitan dengan aktivitas pariwisata, diketahui terdapat tiga aplikasi yang paling sering digunakan oleh turis milenial, yakni (1) Media Sosial, (2) Aplikasi Petunjuk Arah, dan (3) Aplikasi Transportasi Online. 

Media sosial memungkinkan turis  membagikan momen yang dialami. Aplikasi petunjuk arah membantu turis mengeksplorasi tempat yang dikunjungi, baik melihat informasi objek dan daya tarik wisata, tempat kuliner, cendera mata, dan sebagainya tanpa harus mengandalkan pemandu wisata setempat; membantu turis  mengatur perjalanan wisatanya secara mandiri. Aplikasi transportasi online memungkinkan turis  mengunjungi berbagai tempat dengan harga  pasti. Dalam perkembangannya, Google Maps telah menjadi platform petunjuk arah sekaligus media sosial.

Baca Juga  Rahmawati Jago! ini 9 Caleg DPRD Malut Peraih Suara Terbanyak Sementara di Dapil 3
Hasil tangkapan layar penambahan Pantai Lubang Lima yang penulis lakukan pada 31 Oktober 2020

Ketersediaan informasi wisata yang akurat dan dapat diakses secara bebas, khususnya secara digital akan membantu wisatawan ketika melakukan kunjungan. Hal tersebut dapat dioptimalisasi dengan menggunakan Google Maps. Terlebih, semua pengguna diberikan akses untuk memanfaatkan fitur yang ada. Hal ini dapat menjadi pilihan bagi para pelaku usaha objek dan daya tarik wisata untuk memasarkan produk-jasanya secara bertanggungjawab. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.