Pahlawan

oleh -84 views
Link Banner

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pemerhati Budaya

Sepuluh November. Penghujung tahun 1946. Di atas sebuah kereta yang melaju diam di atas debu-debu Kalkuta, Agnes tetiba menemukan semacam “panggilan”. Sebuah bisikan hati berisi ajakan agar dirinya “melayani” mereka yang terbuang. Berbilang bulan setelah itu, Agnes mengikuti kehendak hatinya. “Aku lihat orang sekarat, aku menjemputnya. Aku menemukan seseorang yang lapar, aku memberinya makanan. Dia bisa mencintai dan dicintai. Aku tidak melihat warnanya, aku tidak melihat agamanya. Aku tidak melihat apa-apa. Setiap orang apakah dia Hindu, Muslim atau Budha, ia adalah saudaraku, adik saya,” begitulah Agnes.

Agnes, lengkapnya Agnes Gonxha Bojaxhiu lahir tahun 1910 di Skopje, Makedonia. Keluarganya sederhana dan taat beragama. Tak aneh jika saat teman sebayanya menikmati kegenitan dunia, Agnes bergegas masuk biara dan dikirim ke India pada usia 19 tahun. Di Kalkuta, Agnes menyaksikan hidup yang jauh dari entitas kemanusiaan. Orang ramai terhimpit perang, bencana, wabah dan kesengsaraan. Anak-anak adalah kelompok paling menderita. Hidup seperti di ujung tanduk. Tanpa masa depan. Pendidikan dan kesehatan terabaikan. Maut mengancam laiknya drone yang mengapung di atas rumah-rumah kumuh.

Sempat mengajar di sebuah sekolah, penderitaan yang membayangi hidup orang ramai membuat Agnes memilih “melayani”. Ia menyepi. Semula Ia hanya mengobati anak-anak yang sakit, mengajari mereka membaca dan menulis dengan fasilitas seadanya. Seiring waktu, mereka yang sakit dan miskin datang mendekat. Lalu gerakan Agnes makin membesar. Jejaringnya meluas. Ia bekerja dengan hati. Tak ada sekat apapun. Dunia kemudian mengenalnya sebagai Bunda Teresa. Ibu dari kaum miskin.

Link Banner

Saat Tuhan memanggilnya pulang pada 5 September 1997, jutaan umat berdoa di mesjid, gereja, kuil dan pura. Dunia kehilangan seorang perempuan yang sederhana dan penuh cinta. Perempuan yang mendermakan setengah abad hidupnya hanya untuk melayani mereka yang tak bisa berjuang sendirian. Saking sederhana hidupnya, Bunda Teresa hanya memiliki dua pakaian sari sepanjang hidupnya yang melayani itu. Saat menerima hadiah Nobel Perdamaian, Ia meminta panitia membatalkan jamuan makan malam dan mendonasikan dananya untuk membantu ribuan orang yang kelaparan di India. Baginya ; “Penghargaan duniawi menjadi penting hanya ketika penghargaan itu dapat membantunya menolong dunia yang membutuhkan”.

Baca Juga  Chelsea Naik ke Tiga Besar Klasemen Liga Inggris

Sepuluh November. Republik baru berumur beberapa windu. Gonjang-ganjing kemerdekaan belum sepenuhnya menjejak tanah pertiwi. Kedaulatan negara sebatas imagine – membayangkan. Belanda yang kalah berhasrat kembali menjajah. Di Surabaya, hari-hari menjadi penting sekaligus mendebarkan. Saat Inggris mendarat dengan “mandat” pemenang perang, Belanda membonceng. Sekelompok orang Belanda tanpa ijin mengibarkan bendera Merah Putih Biru di tiang paling atas Hotel Yamato pada malam hari. Seperti pengecut yang kesengsem dengan kuasa.

Pagi hari saat orang ramai melihat bendera itu, amarah meletup berkelindan dengan murka. Insiden ini berbuntut ketegangan Arek-Arek Suroboyo dengan Belanda. Residen Soedirman didampingi Sidik dan Hariyono kemudian menemui perwakilan Inggris serta orang-orang Belanda di sana. Arek-arek itu meminta bendera Belanda diturunkan namun Inggris menolak. Ploegman yang mewakili Inggris bahkan menolak mengakui kedaulatan Indonesia. Ia mengancam arek-arek dengan pistol. Perkelahian di lobi hotel tak terhindarkan. Ploegman tewas dicekik Sidik. Sidik gugur ditembak tentara Belanda.

Di luar gedung hotel, orang ramai berdatangan. Mereka menuntut bendera diturunkan. Gagal berunding, arek-arek itu memanjat tiang dan merobek warna biru bendera. Yang tersisa kemudian adalah merah dan putih. Pekikan merdeka berdentum. Inggris tak terima. Belanda mengekor dengan wajah pucat. Lalu pecahlah pertempuran heroik antara Indonesia yang bersenjatakan bambu runcing melawan Inggris dengan bedil dan tank-tank bajanya. Kita mengenang Sepuluh November sebagai hari keberanian tanpa batas. Keberanian dari Soedirman, Sidik dan Hariyono. Tiga pemuda yang kalah pamornya dibanding Bung Tomo. Mereka orang-orang biasa yang berjuang tanpa berharap sebuah penghormatan.

Baca Juga  Donci For Mama

Sepuluh November. Sebuah arak-arakan yang banal dan penuh heroisme menyusuri jalanan Ternate. Hari itu, orang ramai membusungkan dada. Menyeruak sebuah kebanggaan. Sultan Baabullah Datu Sjah ditahbiskan Presiden Jokowi sebagai Pahlawan Nasional. Sultan ke 7 dari Kesultanan Islam terbesar di timur Nusantara ini memang ikonik. Menguasai lebih dari 100 pulau, wilayah tempatnya memerintah menjangkau jauh hingga ke Filipina. Ternate jadi Bandar dunia. Ia bertahta dengan sistim ketatanegaraan yang demokratis dan mengusung politik luar negeri yang “seimbang”.

Baabullah dalam banyak literasi sejarah adalah satu-satunya penguasa lokal yang sukses mengusir penjajah dari Nusantara. Selama lima tahun Portugis yang khianat membunuh ayahnya – Sultan Khairun Jamil – dan menyengsarakan rakyat Ternate, dikepung dalam benteng mereka. Tak ada perang. Penderitaan yang melebihi batas memaksa Portugis menyerah dan pergi dengan aib yang nista.

Banyak legacy Baabullah yang diwariskan. Tentang Ekonomi, tolerasi, pendidikan, kebudayaan, model berpemerintahan dan strategi perang. Warisan-warisan itu bukan sesuatu yang berbayang. Ghosting. Memberi harapan palsu. Raib tanpa jejak. Warisan itu ada dan “melihat” kita dalam laku keseharian. Ia tak akan mengingatkan. Kitalah yang mesti mengingatnya. Menjadikannya sebagai pedestal yang hidup dan bergerak dalam kebaikan komunal. Baabullah, Arek-Arek Surobojo dan Bunda Teresa adalah kandil yang tak pernah padam. Mereka mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kemenangan di masa depan. Bukan untuk sebuah kesendirian. Bukan pula untuk sebuah kehormatan yang palsu dan mendera kemanusiaan.

Baca Juga  Bentrok pemuda Wainitu-Talake hiasi malam Jumat

Dalam epos Troya, “mereka” – para pahlawan itu – mungkin adalah kembaran Hector. Yang mati secara jantan sendirian mempertahankan kotanya. Ia remuk di tangan Achiles – pendekar yang tak pernah mati itu – yang dengan pongah menyeret jenazah Hector mengelilingi kota yang telah luluh lantak. Achiles tak lebih dari pendendam yang tak bisa berbuat banyak. Karena Hector tak bisa membalas. Ia sekiranya “pahlawan” yang kesepian dan butuh pengakuan lewat narasi-narasi sumir nan berbayang. Pada titik ini, Achiles layaknya malu karena kesatrianya yang tak bisa mati itu justru mengukungnya pada kesombongan yang kosong melompong. Ia jelas tak bisa menandingi Hector, pangeran yang berjuang hingga mati, menyintas kodratnya untuk mempertahankan Troya.

Pahlawan adalah orang orang yang mempertaruhkan hidupnya untuk kemenangan bersama. Ia jauh dari egoisme sesaat yang menentang realisme sosial. Ia tak pernah kesepian bahkan setelah dirinya tak ada. Pahlawan akan terus dipercakapkan dalam kebaikan melintas waktu. Kata Mohammad Hatta, “pahlawan yang setia itu berkorban bukan untuk dikenal namanya tetapi semata-mata untuk membela cita-citanya”. Cita-cita kemanusiaan yang adil dan beradab. (*)