Pagi hari saat orang ramai melihat bendera itu, amarah meletup berkelindan dengan murka. Insiden ini berbuntut ketegangan Arek-Arek Suroboyo dengan Belanda. Residen Soedirman didampingi Sidik dan Hariyono kemudian menemui perwakilan Inggris serta orang-orang Belanda di sana. Arek-arek itu meminta bendera Belanda diturunkan namun Inggris menolak. Ploegman yang mewakili Inggris bahkan menolak mengakui kedaulatan Indonesia. Ia mengancam arek-arek dengan pistol. Perkelahian di lobi hotel tak terhindarkan. Ploegman tewas dicekik Sidik. Sidik gugur ditembak tentara Belanda.
Di luar gedung hotel, orang ramai berdatangan. Mereka menuntut bendera diturunkan. Gagal berunding, arek-arek itu memanjat tiang dan merobek warna biru bendera. Yang tersisa kemudian adalah merah dan putih. Pekikan merdeka berdentum. Inggris tak terima. Belanda mengekor dengan wajah pucat. Lalu pecahlah pertempuran heroik antara Indonesia yang bersenjatakan bambu runcing melawan Inggris dengan bedil dan tank-tank bajanya. Kita mengenang Sepuluh November sebagai hari keberanian tanpa batas. Keberanian dari Soedirman, Sidik dan Hariyono. Tiga pemuda yang kalah pamornya dibanding Bung Tomo. Mereka orang-orang biasa yang berjuang tanpa berharap sebuah penghormatan.





