Sempat mengajar di sebuah sekolah, penderitaan yang membayangi hidup orang ramai membuat Agnes memilih “melayani”. Ia menyepi. Semula Ia hanya mengobati anak-anak yang sakit, mengajari mereka membaca dan menulis dengan fasilitas seadanya. Seiring waktu, mereka yang sakit dan miskin datang mendekat. Lalu gerakan Agnes makin membesar. Jejaringnya meluas. Ia bekerja dengan hati. Tak ada sekat apapun. Dunia kemudian mengenalnya sebagai Bunda Teresa. Ibu dari kaum miskin.
Saat Tuhan memanggilnya pulang pada 5 September 1997, jutaan umat berdoa di mesjid, gereja, kuil dan pura. Dunia kehilangan seorang perempuan yang sederhana dan penuh cinta. Perempuan yang mendermakan setengah abad hidupnya hanya untuk melayani mereka yang tak bisa berjuang sendirian. Saking sederhana hidupnya, Bunda Teresa hanya memiliki dua pakaian sari sepanjang hidupnya yang melayani itu. Saat menerima hadiah Nobel Perdamaian, Ia meminta panitia membatalkan jamuan makan malam dan mendonasikan dananya untuk membantu ribuan orang yang kelaparan di India. Baginya ; “Penghargaan duniawi menjadi penting hanya ketika penghargaan itu dapat membantunya menolong dunia yang membutuhkan”.
Sepuluh November. Republik baru berumur beberapa windu. Gonjang-ganjing kemerdekaan belum sepenuhnya menjejak tanah pertiwi. Kedaulatan negara sebatas imagine – membayangkan. Belanda yang kalah berhasrat kembali menjajah. Di Surabaya, hari-hari menjadi penting sekaligus mendebarkan. Saat Inggris mendarat dengan “mandat” pemenang perang, Belanda membonceng. Sekelompok orang Belanda tanpa ijin mengibarkan bendera Merah Putih Biru di tiang paling atas Hotel Yamato pada malam hari. Seperti pengecut yang kesengsem dengan kuasa.




