Sepuluh November. Sebuah arak-arakan yang banal dan penuh heroisme menyusuri jalanan Ternate. Hari itu, orang ramai membusungkan dada. Menyeruak sebuah kebanggaan. Sultan Baabullah Datu Sjah ditahbiskan Presiden Jokowi sebagai Pahlawan Nasional. Sultan ke 7 dari Kesultanan Islam terbesar di timur Nusantara ini memang ikonik. Menguasai lebih dari 100 pulau, wilayah tempatnya memerintah menjangkau jauh hingga ke Filipina. Ternate jadi Bandar dunia. Ia bertahta dengan sistim ketatanegaraan yang demokratis dan mengusung politik luar negeri yang “seimbang”.
Baabullah dalam banyak literasi sejarah adalah satu-satunya penguasa lokal yang sukses mengusir penjajah dari Nusantara. Selama lima tahun Portugis yang khianat membunuh ayahnya – Sultan Khairun Jamil – dan menyengsarakan rakyat Ternate, dikepung dalam benteng mereka. Tak ada perang. Penderitaan yang melebihi batas memaksa Portugis menyerah dan pergi dengan aib yang nista.
Banyak legacy Baabullah yang diwariskan. Tentang Ekonomi, tolerasi, pendidikan, kebudayaan, model berpemerintahan dan strategi perang. Warisan-warisan itu bukan sesuatu yang berbayang. Ghosting. Memberi harapan palsu. Raib tanpa jejak. Warisan itu ada dan “melihat” kita dalam laku keseharian. Ia tak akan mengingatkan. Kitalah yang mesti mengingatnya. Menjadikannya sebagai pedestal yang hidup dan bergerak dalam kebaikan komunal. Baabullah, Arek-Arek Surobojo dan Bunda Teresa adalah kandil yang tak pernah padam. Mereka mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kemenangan di masa depan. Bukan untuk sebuah kesendirian. Bukan pula untuk sebuah kehormatan yang palsu dan mendera kemanusiaan.





