Dalam epos Troya, “mereka” – para pahlawan itu – mungkin adalah kembaran Hector. Yang mati secara jantan sendirian mempertahankan kotanya. Ia remuk di tangan Achiles – pendekar yang tak pernah mati itu – yang dengan pongah menyeret jenazah Hector mengelilingi kota yang telah luluh lantak. Achiles tak lebih dari pendendam yang tak bisa berbuat banyak. Karena Hector tak bisa membalas. Ia sekiranya “pahlawan” yang kesepian dan butuh pengakuan lewat narasi-narasi sumir nan berbayang. Pada titik ini, Achiles layaknya malu karena kesatrianya yang tak bisa mati itu justru mengukungnya pada kesombongan yang kosong melompong. Ia jelas tak bisa menandingi Hector, pangeran yang berjuang hingga mati, menyintas kodratnya untuk mempertahankan Troya.
Pahlawan adalah orang orang yang mempertaruhkan hidupnya untuk kemenangan bersama. Ia jauh dari egoisme sesaat yang menentang realisme sosial. Ia tak pernah kesepian bahkan setelah dirinya tak ada. Pahlawan akan terus dipercakapkan dalam kebaikan melintas waktu. Kata Mohammad Hatta, “pahlawan yang setia itu berkorban bukan untuk dikenal namanya tetapi semata-mata untuk membela cita-citanya”. Cita-cita kemanusiaan yang adil dan beradab. (*)





