Prabowo punya kesempatan emas untuk membuktikan dirinya sebagai pemimpin sejati. Komitmen untuk memberantas korupsi harus dimulai dari lingkarannya sendiri: membentuk kabinet yang bersih, transparan, bebas dari titipan oligarki, dan berani menindak siapa pun yang melanggar hukum. Tanpa langkah itu, janji untuk tidak menjadi bayang-bayang Jokowi hanya akan menjadi retorika kosong.
Sebagaimana pernah diingatkan Amien Rais, Bapak Reformasi, bahwa “kekuasaan tanpa kontrol akan melahirkan tirani.” Begitu pula Gus Dur yang selalu menegaskan, “Tidak penting siapa presidennya, yang penting rakyat mendapat keadilan.” Pesan-pesan itu seharusnya menjadi pegangan moral bagi Prabowo: kekuasaan yang tidak dijalankan dengan amanah dan keberanian, hanya akan menjadi pengulangan sejarah kegelapan.
Sejarah menunggu pembuktian: apakah Prabowo benar-benar pemimpin yang berani keluar dari bayang-bayang Jokowi, atau hanya menjadi perpanjangan tangan oligarki yang selama ini menjarah republik. Pilihan itu ada di tangannya.
Bangsa ini sudah terlalu lama hidup dalam kegelapan. Kini, rakyat menaruh harapan agar Prabowo tidak menambah bab baru dari masa kelam itu. (*)
Surabaya, 23 Agustus 2025









