Porostimur.com, Washington – Seorang analis pertahanan Amerika Serikat menilai tujuan militer Washington dalam konflik dengan Iran mengalami pergeseran signifikan, yang berpotensi memperpanjang konflik dan memperumit jalan keluar diplomatik.
Brian Clark, ahli peperangan angkatan laut sekaligus Direktur Konsep Pertahanan di Hudson Institute, mengungkapkan bahwa strategi awal AS yang berfokus pada “serangan pemenggalan kepala” terhadap kepemimpinan Iran tidak membuahkan hasil yang diharapkan.
Target Berubah, Strategi Ikut Bergeser
Menurut Clark, kegagalan mencapai perubahan rezim di Iran memaksa perencana militer AS untuk menyesuaikan target operasi.
“Karena mereka mencari beberapa tujuan yang benar-benar dapat mereka capai dan anggap sebagai keberhasilan, untuk memberi mereka jalan keluar yang menyelamatkan muka,” ujarnya, seperti dilansir Al Jazeera.
Ia menyebut kondisi ini memicu “proliferasi tujuan” atau bertambahnya sasaran yang ingin dicapai, yang justru berisiko memperpanjang konflik.
“Ini bisa menjadi resep untuk perpanjangan perang dan terjebak dalam konfrontasi jangka panjang,” tegasnya.
Faktor Kepemimpinan dan Ambisi Geopolitik
Clark juga menyinggung sikap Donald Trump yang sejak lama menunjukkan antipati terhadap kepemimpinan Iran. Ia menilai pendekatan tersebut bukan hal baru, melainkan bagian dari upaya jangka panjang untuk mengubah posisi Iran di panggung geopolitik.









