Palestina

oleh -111 views

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pemerhati Budaya

Bentuknya bulat dan mungil. Berwarna merah muda. Dilingkari ornamen kuning gading. Menempel diujung pensil yang tak tajam. Sederhana. Sebagaimana fungsinya untuk menghapus. Di masa kecil dulu, kami menamainya homs. Kata ini beradaptasi dari bahasa Belanda ; “gom” yang bermakna penghapus – yang dibaca “hom”. Ini warisan kolonial yang tersisa. Hom, belakangan bertambah dengan “s” mungkin untuk memudahkan menghapus banyak tulisan – merujuk pada sesuatu yang berulang. Meski yang dihapus tak sepenuhnya bersih karena masih menyisakan bekas goresan angka, kata atau kalimat, homs adalah jaminan mutu. Seiring kemajuan peradaban, homs bermutasi menjadi warna warni dengan aroma berbeda yang menarik minat anak-anak.

Baca Juga  Wawali Ambon Apresiasi 99 Tahun Tarekat Maria Mediatrix, Tegaskan Peran Besar Pelayanan Sosial dan Iman

Homs, menghapus dan anak-anak adalah nukilan hidup yang berkelindan di antara ingatan dan lupa. Ia semacam realitas yang jamak. Kadang menyembul dalam laku. Tak jarang tenggelam dalam samar bayangan. Menghapus merujuk pada aktifitas yang dilakukan dengan tujuan tertentu. Obyeknya tak sekedar terjebak pada tulisan. Ia bisa lebih pada sesuatu yang nyata. Ada kesadaran untuk melakukan. Sadar disini memiliki arti yang melakukan “menghapus itu” telah membayangkan akan ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang dihilangkan. Entah itu pandangan politik, kepercayaan, kekuasaan, sebuah komunitas atau bahkan kemanusiaan.