Palestina

oleh -114 views

Sebuah ironi, ketika dalam rentang lebih dari tujuh dekade yang sama, Palestina menjadi bangsa yang sangat menderita. Sendirian berjuang melawan perampasan tanah-tanah dan masa depan anak-anak mereka. Hanya karena orang-orang Yahudi itu meyakini bahwa ada “tanah suci” yang dijanjikan Tuhan khusus untuk mereka. Tidak untuk yang lain. Entah oleh Tuhan yang mana. Pastor Manuel Musallam, seorang pemuka Kristen di wilayah Gaza secara tegas menyebut : “Kami tidak akan biarkan rumah orang-orang muslim direbut di Skeikh Jarrah, Silwan dan Wadi Al-Joz dan orang-orang Palestina diusir”. Ada pembelaan yang banal. Menjadikan Palestina sebagai tanggungjawab bersama. “You don’t need to be muslim to stad up for Gaza, you just need to be human”.

Baca Juga  Lawan Fulham, The Gunners Uusung Misi Perlebar Jarak dari City

Jika hanya sebatas menjadi manusia untuk membela Palestina saja kita tak mampu, kemanusiaan tak lagi bermakna. Kita terperangkap pada “kesendirian spesies”, meminjam pendapat novelis Ricard Powers. Sebuah “kesunyian besar” bagi kemanusiaan sebagaimana kisah ini. Pada tahun 1950, ketika berjalan ke tempat makan siang di Los Alamos, ahli fisika kelahiran Italia, Enrico Fermi, salah satu arsitek bom atom, terjebak percakapan tentang UFO bersama teman-temannya. Saking asyiknya, dia sampai melamun dan baru tersadar sesudah semua orang pergi. Lalu Fermi bertanya, “dimana semuanya?”. Cerita itu sekarang menjadi legenda sains dan orang ramai menyebutnya sebagai paradoks Fermi.