Palestina

oleh -116 views

Beberapa negara Arab yang tak setuju kemudian menyerang Israel. Perang berkecamuk dalam waktu yang lama. Perjanjian demi perjanjian dibuatkan untuk damai yang tak pernah langgeng. Palestina merdeka jadi jalan panjang yang tak berujung. Israel makin gencar memperluas wilayah. Pemukiman baru dengan tembok pembatas dibangun. Dunia menutup mata. Yuval Noah Harari menyebut masyarakat dari dulu hingga saat ini selalu dipersatukan oleh “fiksi bersama”. Semacam keyakinan sumir yang dianggap benar oleh sekelompok dan dinilai salah oleh sekelompok yang lain.

Dalam novel “Palestinian Walks ; Note on a Vanishing Landscape”, penulis Palestina, Raja Shehadeh menarasikan keseharian negerinya dengan kesuraman yang guyub. Raja adalah seorang Palestina biasa. Ia tidak memihak faksi manapun. Raja juga tidak berpolitik. Dan karenanya Ia agak “berbeda”. Kesamaaanya dengan orang-orang Palestina yang lain adalah fakta bahwa rumahnya, kebunnya dan tanahnya satu- persatu hilang. Begitu juga kampungnya. Ia lalu menggugat otoritas Israel dengan bukti sah yang dimilikinya. Semua gugatan itu ditolak. Raja menyaksikan perampasan atas tanah-tanah milik warga Palestina itu dilakukan secara masif dengan todongan senjata. Tak hanya itu, banyak pula situs dan tempat suci agama-agama yang dihancurkan. Semuanya dihapus. Israel kemudian membuat peta baru. Melupakan yang “dihilangkan”.