Ibarat drone yang terbang rendah dan memotret setiap gerak, “menghapus” untuk menghilangkan itu sepertinya tengah berlangsung di Palestina. Negara dengan sejarah panjang yang terjebak diantara tipisnya pengakuan dan penyangkalan. “Menghapus” jadi pemicu perang yang terus berulang. Perang saat ini bermula dari upaya Israel menggusur paksa warga Palestina yang bermukim di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur. Warga yang turun-temurun adalah “tuan tanah” menolak penggusuran. Israel memaksa dengan senjata.
Aroma perang makin memanas setelah Israel membubarkan warga Palestina yang tengah melaksanakan shalat tarawih di mesjid Al Aqsa. Bukan satu dua kali Israel melakukan hal ini. Bukan satu dua kali pula Palestina melawan. Jika sebelumnya, bentrok hanya berupa lemparan batu dibalas gas airmata dan tembakan peluru karet, kali ini Hamas, salah satu faksi utama Palestina di Jalur Gaza menembakkan roket ke arah Tel Aviv dan beberapa kota lainnya. Sistim pertahanan udara Israel dijebol. Serangan roket Hamas itu dibalas Israel dengan membombardir Gaza menggunakan jet tempur bermisil peledak dan drone bersenjata. Berbagai fasilitas rusak termasuk kantor media internasional dan rumah sakit. Rumah warga ikut hancur. Korban jiwa berjatuhan. Hampir setengah dari yang terenggut paksa itu adalah anak-anak yang tak berdosa.




