Di acara yang sama, Manager Konservasi Indonesia Iqbal Herwata menjelaskan pengerukan pasir laut juga berisiko mengganggu habitat ikan hiu berjalan (Hemiscyllium halmahera).
Ia menjelaskan habitat hiu berjalan banyak tersebar di wilayah Indonesia Timur. Dari sembilan spesies yang tersebar di Indonesia, enam di antaranya tersebar di bagian Timur dan menjadi spesies endemik.
Jika pengerukan pasir laut dilakukan di sana, maka potensi mengganggu habitat hiu berjalan terbilang besar, apalagi dilakukan di perairan dangkal kurang dari 20 meter.
“Pengerukan sedimen di perairan tentunya tergantung di wilayahnya. Kalau di Indonesia timur tentunya berdampak terhadap wilayah hiu berjalan, apalagi 0-20 meter,” ujarnya.
Menurutnya, habitat hiu berjalan berada pada lokasi laut dangkal yang dekat dengan habitat penduduk. Terlebih perubahan iklim juga menjadi pengaruh besar terhadap hiu berjalan.
“Hiu berjalan memiliki keterancaman tentang perusakan habitat karena habitatnya di laut dangkal dekat dengan manusia, sedimentasi, penangkapan secara lokal dan ada juga perubahan iklim yang berdampak merusak,” tuturnya.
Indonesia merupakan rumah dari enam spesies hiu bumbu ini. Sebarannya berada di wilayah perairan Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku utara.




