Perkembangan platform digital yang sangat signifikan memberi kontribusi pada peningkatan pemahaman masyarakat terutama perempuan sebagai pangsa pasar terbesar pengguna platform digital.
Perempuan tentunya cenderung lebih memilih jenis plaform digital yang berorientasi entertainmentnya (menghibur) seperti Tik-Tok dan Youtube dibandingkan yang komposisi edukasi (pendidikan) lebih besar seperti Twiter (sekarang X).
Dalam Pemilu 2024 visi, misi dan potret kegiatan para caleg mungkin kalah popular dibandingan pasangan Capres dan Cawapres. Realitas menujukan platform digital di pemilu kali ini memberikan kontribusi besar bagi peningkatan pemahaman perempuan terhadap dunia poltik seperti potret parpol, orientasi partai partai poltik, sampai dengan kebijakan pemerintahan.
Sedangkan eksistensi caleg lebih didominasi pada sosialisasi diri lewat baliho, stiker, spanduk, aksi door to door atau memperkenalkan diri pada komunitas terbatas di mana yang bersangkutan memiliki akses ke sana. Diharapkan dengan cara ini Perempuan cenderung untuk mengenal calegnya sehingga di tanggal 14 Februari nanti bukan seperti “membeli kucing dalam karung”.
Pasca Pemilu 2024 kita hanya berharap kultur potlik kita berubah sehingga animo perempuan terhadap dunia politik mulai mengalami pergeseran ke arah yang lebih baik dengan meningkatnya minat perempuan terjun ke parpol.









