Oleh: Dino Umahuk
Kapal bastom tiga kali
Itu tanda mau lapas tali
Beta pung hati sung seng tahan
Lia ale manangis…
Bagi ale dong yang nyong-nyong deng nona-nona di awal 2000-an pasti akrab deng lagu yang dinyanyikan biduawanita “Febiola Mamahit” ini. Juga deng lagu Balada Pelautnya Bung Melki Goeslaw (almarhum). Ya… dua lagu ini bercerita tentang pelabuhan dengan segala peristiwa dan ceritanya
Bagi katong orang Ambon, pelabuhan adalah sebuah tempat yang familiar, apalagi di jaman dulu ketika tiket pesawat masih mahal. Beta rasa hampir samua pernah datang deng barangkat dari pelabuhan.
Dulu pelabuhan sangat penting artinya seng hanya sebagai tempat bersandarnya kapal. Pelabuhan seperti menjadi tanda deng titik tolak para pejuang hidup dan masa depan. Dari pelabuhan anak-anak Ambon, anak-anak Maluku, melarungkan tekadnya untuk merah masa depan, baik itu mau pi sekolah, atau mengadu nasib di rantau. Pelabuhan memang penting adanya. Pelabuhan menyimpan banyak cerita di tiap sudutnya.
Ketika baru masuk menuju terminal penumpang, apalagi ada ade nona kele deng airmata, ale pasti pikir banyak termasuk seng mau barangkat sebelum benar-benar melewati pintu masuk. Apakah ale akan benar-benar harus pergi meninggalkan semua kenangan masa kecil sampe remaja, harus meninggalkan ade nona yang ada pono deng airmata di ale pung sabalah atau ale musti barangkat lalu nanti pulang deng kemenangan?




