Dari Digoel-lah Indonesia Berawal.
Nakh, posisi historis Boven Digoel yang sedemikian penting dalam konteks sejarah nasional bagi terbentuknya Indonesia, hingga bergaung ke manca negara ini, sangatlah disayangkan jika tidak ada upaya serius untuk merekonstruksi memori kolektif Indonesia. Bahwa Indonesia, walaupun Proklamasi 17 Agustus 1945, dilaksanakan di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, namun itu hanyalah momentum eksekusi politik. Karena akumulasi dan kristalisasi gagasan akan kemerdekaan, justeru terjadi di Boven Digoel. Gagasan yang semulanya akan dibungkam secara paksa dan kejam oleh upaya sistematis kolonial, ternyata mendapat perlawanan justeru dari Boven Digoel. Untuk itu, tidaklah berlebihan jika di Boven Digoel, harus di bangun Museum Perjuangan Kemerdekaan dan Pembentukan Indonesia, sebagai upaya melawan lupa. Sekaligus hal ini sangat penting, untuk menjadikan Indonesia, bukan bangsa pelupa dan negerinya orang gila, sebagaimana kalimat filsuf Spanyol George Santayana dan wartawan pejuang Rosihan Anwar yang saya kutip di atas.

Silahkan kita bandingkan dengan Singapore yang kecil, namun mampu merenovasi Pulau Sentosa, eks kamp tawanan Jepang pada Perang Dunia II tersebut, menjadi museum sejarah nasional tentang Singapore, bahkan Sentosa Island telah menjadi destinasi wisata utama. Belanda sendiri, negara yang tak seluas Jawa Barat tersebut, memiliki sekian banyak museum, sebutlah Tropenmuseum, KNIL Museum Bronbeek, Rijksmuseum, Van Gogh Museum, Anne Frank Museum (AnneFrankhuis), Museum Maluku (MuMa), Maritime Museum, Leiden American Museum, dll-nya. Hal ini menandai betapa seriusnya negara memelihara memori kolektif bangsa tersebut.









