Pemimpin Partai Konservatif Pierre Poilievre menyebut pengunduran diri Trudeau sebagai akhir dari babak gelap dalam sejarah Kanada. Namun, ia juga mempertanyakan perubahan nyata yang bisa ditawarkan oleh pemimpin Liberal berikutnya.
Kritik serupa disampaikan oleh Jagmeet Singh dari Partai Demokrat Baru, yang menegaskan bahwa warga Kanada membutuhkan perubahan kepemimpinan yang lebih mendasar.
Selama masa jabatannya, Justin Trudeau menghadapi tantangan berat, seperti melonjaknya biaya hidup, isu imigrasi, dan skandal kebijakan. Langkahnya untuk mengenakan pajak karbon dan mengelola proyek jaringan pipa minyak Alberta juga menuai protes dari berbagai pihak.
Namun, Justin Trudeau juga diakui atas keberhasilannya dalam program sosial, termasuk subsidi perawatan anak, rencana perawatan gigi, dan langkah-langkah pro-lingkungan yang ambisius. Presiden Partai Liberal Sachit Mehra menyatakan Trudeau telah memberikan “kemajuan transformasional” bagi warga Kanada.
Di tengah situasi domestik yang menantang, Kanada juga menghadapi ancaman kebijakan proteksionis dari Amerika Serikat (AS). Presiden terpilih Donald Trump bahkan mengancam akan memberlakukan tarif 25% pada barang impor dari Kanada.
Hal ini memicu tekanan tambahan terhadap kebijakan Justin Trudeau, yang beberapa di antaranya dikritik oleh mantan Menteri Keuangan Chrystia Freeland. Berbagai hal tersebut akhirnya membuat Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mundur setelah hampir satu dekade berkuasa.




