Porostimur.com, Washington – Persediaan rudal militer Amerika Serikat dilaporkan menyusut signifikan setelah konflik dengan Iran, memicu kekhawatiran terhadap kesiapan pertahanan dalam menghadapi potensi konflik di masa depan.
Analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkapkan bahwa selama tujuh minggu perang, militer AS telah menghabiskan sebagian besar stok rudal utamanya.
Sedikitnya 45 persen persediaan Precision Strike Missiles, sekitar 50 persen rudal pencegat THAAD, serta hampir separuh rudal Patriot telah digunakan dalam konflik tersebut. Data ini disebut sejalan dengan penilaian internal Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Risiko Kekurangan Amunisi
Para ahli menilai kondisi ini berpotensi menciptakan “risiko jangka pendek” bagi kesiapan militer AS, terutama jika harus menghadapi konflik besar lain dalam waktu dekat.
Menurut analis CSIS, pengeluaran amunisi dalam skala besar telah membuka celah kerentanan, khususnya di kawasan strategis seperti Pasifik Barat.
Mark Cancian menyebutkan, diperlukan waktu antara satu hingga empat tahun untuk mengisi kembali persediaan rudal, bahkan lebih lama untuk mencapai kapasitas ideal.
“Pengeluaran amunisi yang tinggi telah menciptakan celah kerentanan yang meningkat di Pasifik Barat,” ujarnya.










