Pesparani, momen wartakan kebersamaaan umat beragama di Maluku

@Porostimur.com | Ambon : Berbagai even keagamaan dan kerohanian berskala nasional yang digelar di jantung Provinsi Maluku, selalu mengedepankan asas kebersamaan.

Bukan saja Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tahun 2012, Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) tahun 2015 ataupun Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) yang akan digelar 27 Oktober – 2 November 2018 nanti di Kota Ambon.

Ketiga even dimaksud dikemas dan digelar dalam keberagaman dan kebersamaan sesuai ciri Bangsa Indonesia sendiri Bhineka Tunggal Ika.

Bahkan tatkala MTQ digelar, kontingen dari Provinsi Banten justru tinggal di kediaman Uskup Diosis Amboina, Mgr. Petrus Canisius Mandagi,M.Sc.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Maluku, DR. H. Abdullah Latuapo, juga membenarkan pernyataan tersebut, Rabu (16/10).

Menurutnya, Pesparani yang akan digelar nanti di Kota Ambon, bukan hanya sekedar perayaan bagi umat Katolik semata, namun melibatkan seluruh umat beragama yang ada di Maluku.

Kebersamaan ini, tegasnya, sudah terjalin sejak MTQ dan PESPARAWI di Ambon yang melibatkan semua agama.

Terpisah, Uskup Diosis Amboina, Mgr. Petrus Canisius Mandagi,M.Sc, dalam keterangannya kepada wartawan, menjelaskan bahwa keterlibatan umat Katolik secara aktif dalam penyelenggaraan MTQ dan Pesparawi hingga kedua kegiatan dimaksud berlangsung dengan suksesnya.

Diharapkannya, kerjasama lintas agama dalam mendukung penyelenggaraan even kerohanian/keagamaan ini terus terjalin.

Dalam penyelenggaraan Pesparani nanti, akunya, sebagian besar fasilitas gedung yang digunakan bukan hanya milik umat Katolik saja, namun juga milik agama lainnya, hingga milik pemerintah sekalipun.

Sebut saja bangunan milik Gereja Protestan yang digunakan nanti yakni Gedung Baileo Oikumene dan Christian Center, hingga Islamic Center milik umat Islam pun turut digunakan untuk penyelenggaraan seminar dan musyawarah nasional.

Dijelaskannya, gedung milik umat Katolik yang digunakan dalam Pesparani yakni Aula St. Fransiscus Xaverius dan Chatolic Center.

Begitupun aset pemerintah daerah yang digunakan di antaranya Lapangan Merdeka, Kantor Gubernur Maluku, Lapangan Polda Tantui, Balieo Siwalima dan Taman Budaya.

Selain itu dari sisi kepanitiaan sendiri, tambahnya, umat Katolik yang menjadi panitia Pesparani hanya berjumlah 10%, sedangkan sisanya dari umat beragama lain.

”Jadi, sungguh Pesparani ini mau mewartakan kepada dunia bahwa betapa Indonesia menekankan kerukunan antar umat beragama,” pungkasnya. (keket)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: