Ketua Panitia Naly Thomas, menyebut Yangere bukan sekadar seni gerejawi, melainkan ekspresi budaya yang sarat makna sosial.
“Yangere hari ini bukan sekadar lomba. Ia adalah ruang literasi budaya, sarana perekat sosial, sekaligus kebanggaan daerah yang mendukung visi pembangunan kebudayaan Maluku Utara,” ujarnya.
Harmoni dalam Nada
Sebanyak 366 peserta dari tujuh kabupaten/kota tampil silih berganti, membawa semangat persaudaraan dalam setiap nada.
Bagi mereka, panggung Pesparawi bukan semata ajang unjuk kebolehan, melainkan juga wujud syukur, sukacita, dan doa yang dinyanyikan bersama.
Malam itu, Sofifi disatukan oleh musik, lagu, dan keyakinan bahwa harmoni dapat tercipta jika agama, budaya, dan kemanusiaan berjalan beriringan.
Pesparawi dan Yangere 2025 menjadi bukti bahwa suara-suara dari Maluku Utara mampu membangun persaudaraan yang melintasi batas iman dan etnis. (red)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel porostimur.com









