“Seharusnya Teddy mencontoh Ibu Titiek Soeharto yang merayakan ultahnya secara sederhana di DPR. Saya berharap Teddy meminta maaf kepada masyarakat Indonesia yang merasa tersakiti,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tindakan tersebut berpotensi merusak citra pemerintah di mata publik.
“Hal itu bisa dianggap karena pemberlakuan efisiensi anggaran hanya ‘omon-omon’ dan berlaku untuk kementerian atau lembaga lain saja,” pungkasnya.
Simbol Jarak Elite dan Rakyat
Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, turut menilai perayaan ulang tahun Teddy mengandung pesan yang ambigu bagi publik.
“Perayaan ultah Seskab Teddy menunjukkan terlalu berlebihan, kesan mewah, amat diekspos, malah tidak mencerminkan keprihatinan atas kondisi rakyat dalam situasi ekonomi saat ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, lokasi perayaan di luar negeri memperkuat kesan adanya jarak antara elite dan masyarakat.
“Juga terlihat kesan jauh, mungkin juga enggan bersama rakyat alias berjarak dengan rakyat, karena dirayakan di negeri orang,” katanya.
Menurut Efriza, kontras dengan gaya sederhana Titiek justru memperjelas perbedaan citra yang ditangkap publik.
“Perayaan ultah Seskab Teddy pesannya jadi ambigu dari Istana. Di satu sisi, ekspos besar-besaran itu bisa dibaca sebagai upaya membangun citra kedekatan kekuasaan dengan figur tertentu,” jelasnya.












