Saat ini, kata Latuapo, MUI berperan bukan saja sebagai pemberi pembinaan kepada masyarakat terkait pemahaman agam yang baik, namun juga berfungsi mengawasi dan ikut dalam penyelesaian masalah di tengah umat.
“Kita semua pasti memiliki keinginan untuk menjadikan Maluku yang aman dan nyaman. Olehnya itu dukungan dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk Maluku yang damai,” jelasnya.
Wakil Sekretaris Umum Sinode GPM Pendeta Rudy Rahabeat, meminta agar persoalan radikalisme harus disikapi secara positif. Ia mengaku semua agama memiliki potensi radikalisme, tapi yang bersifat positif.
“Kita tidak bisa pungkiri bahwa disemua agama memiliki potensi radikalisme, namun dalam hal ini radikalisme yang bersifat positif adalah radikalisme dalam beragama bukan dalam melakukan aksi ekstrim dan kekerasan terhadap manusia atau fasilitas yang bertolak dengan paham tersebut,” jelasnya.
Rahabeat mengatakan, saat ini GPM telah menjadikan gereja sebagai gereja orang basudara, gereja pela gandong anak Maluku.
“Tujuannya adalah untuk membangun kembali suasana kehidupan orang basudara yang mulai renggang dan terkikis oleh kondisi saat ini,” terangnya.
Ketua FKPT Maluku, Abdul Rauf, menyebutkan, paham radikalisme seperti gunung berapi. Tapi tak ada yang mengetahui kapan gunung itu akan meletus.




