Politik Narcissus di Negeri Para Ketua

oleh -769 views

Christopher Lasch dalam The Culture of Narcissism menggambarkan masyarakat yang menjadikan ruang publik sebagai panggung ego.

Jan-Werner Müller menjelaskan bahwa populisme melahirkan pemimpin yang mengidentikkan diri dengan negara.

Sementara Erich Fromm melihat narsisme sebagai pelarian dari ketidakamanan eksistensial. Semua ini membantu memahami fenomena politik narsistik hari ini.

Lasch mengingatkan bahwa narsisme bukan sekadar perilaku individu, tetapi struktur sosial.

Müller memperlihatkan bahaya dari klaim eksklusif kebenaran oleh pemimpin yang merasa diri satu-satunya representasi rakyat.

Fromm menekankan bahwa kekuasaan yang narsistik akan lebih sibuk melindungi citra daripada menyelesaikan persoalan nyata.

Ketiganya menegaskan bahwa narsisme bukan sekadar penyakit personal, melainkan bisa menjadi ideologi politik diam-diam yang dijalankan dengan penuh kesadaran.

Kekuasaan yang berorientasi citra menjadikan rakyat sebagai latar belakang, bukan subjek utama kebijakan.

Baca Juga  Klasemen Liga Inggris: Arsenal dan Man City Makin Panas

Gejala politik narsisme dalam kebijakan

Di banyak ruang publik, pemimpin tampil sebagai pusat narasi—bukan sebagai pelayan publik, tetapi ikon yang dipuja.

Istilah ‘ketua’ menjadi status kultural yang mengharuskan pengawalan dan pemujaan. ‘Engkol’ menjadi alat untuk menjaga jarak dengan kekuasaan, dan ‘mengumbang’ sebagai cara menyusun atau merontokkan citra.

No More Posts Available.

No more pages to load.