Ada sesuatu yang menarik dari gaya kepemimpinan semacam ini: kebijakan sering diumumkan lebih dahulu daripada dipikirkan kedalaman pelaksanaannya. Seolah yang terpenting adalah menghadirkan kesan cepat, responsif, dan visioner di depan publik internasional. Padahal dalam dunia pendidikan, keputusan yang tergesa justru dapat meninggalkan beban panjang bagi birokrasi dan lembaga pendidikan di bawahnya.
Kita tentu memahami pentingnya diplomasi kebudayaan. Banyak negara menggunakan bahasa sebagai alat memperluas pengaruh globalnya. Perancis, misalnya, sejak lama aktif menyebarkan bahasa dan kebudayaannya melalui lembaga-lembaga internasional. Namun negara-negara yang berhasil membangun pengaruh budaya biasanya melakukannya melalui perencanaan yang konsisten dan kerja institusional bertahun-tahun, bukan lewat pengumuman spontan dalam forum kenegaraan.
Karena itu, persoalannya bukan pada bahasa Portugis atau bahasa Perancis itu sendiri, melainkan pada cara sebuah kebijakan dilahirkan. Pendidikan seharusnya disusun dengan kesadaran jangka panjang dan pijakan yang tenang. Sebab kurikulum bukan pidato diplomatik yang bisa berubah mengikuti suasana pertemuan, melainkan peta besar yang menentukan arah generasi masa depan.












