Lima: keterlibatan Oligarki (pemilik modal) yang mengaku menguasasi sepertiga kekuasaan negara dalam mendukung Prabowo-Gibran bukan tanpa maksud. “There is no free coffee” (tidak ada yang gratis). Mereka punya kepentingan untuk terus menguasasi perekonomian sekaligus menguasai perpolitikan dan pemerintahan. Dengan realita ini kemiskinan (dan kebodohan) rakyat akan terus dipelihara untuk lebih mudah dikontrol oleh mereka. Ini mengingatkan kita sebuah sistim kekuasaan (pemerintahan) tertentu yang mungkin saja terjadi di Indonesia.
Enam: isu kesehatan dan umur yang bukan rahasia lagi bahwa Prabowo tidak terlalu fit untuk memimpin bangsa besar dengan segala permasalahannya. Prabowo adalah mantan prajurit dan menantu penguasa yang kuat kala itu. Dia lalu mengalami goncangan situasi. Ditambah lagi pernah kalah dalam pertarungan capres/cawapres tiga kali. Semua ini berdampak negatif pada keadaan emosi dan mentalitàsnya. Karenanya Prabowo selain secara fisik mengalami defisit, yang lebih parah adalah masalah mental dan emosi yang kurang stabil. Pemimpin yang secara mental dan emosi mengalami gangguan akan berbahaya dalam kebijakan, khususnya ketika harus merespon isu-isu sensitif yang terjadi.









