Proyek Nikel Sonic Bay di Teluk Weda-Malut: Andalan Bahlil hingga Ditinggal Investor

oleh -58 views
The BASF SE chemical plant in Ludwigshafen, Germany, on Tuesday, April 25, 2023. BASF SE reported mixed preliminary first-quarter results, with higher-than-expected operating profit and revenue that missed analyst expectations after rising energy costs reduced the company’s output. Photographer: Alex Kraus/Bloomberg

Porostimur.com, Jakarta – Sonic Bay, proyek smelter nikel-kobalt untuk bahan baku baterai kendaraan listrik di Kawasan Industri Teluk Weda, Maluku Utara, pada awalnya ditargetkan untuk berproduksi pada 2026.

Sayangnya, BASF SE dan Eramet SA selaku investor justru menyatakan hengkang dari proyek dengan nilai investasi sebesar US$2,6 miliar (sekitar Rp42,64 triliun asumsi kurs saat ini) tersebut, hanya selang setahun setelah digadang-gadang pemerintah.

Kedua investor Eropa itu padahal telah menargetkan bakal membuat keputusan investasi final atau final investment decision (FID) dari proyek Sonic Bay pada semester I-2024.

Proyek smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL) pada awalnya dirancang untuk memproses sebagian bijih dari tambang Weda Bay Nickel demi menghasilkan produk antara nikel dan kobalt, yakni sekitar 60.000 ton nikel dan 6.000 ton kobalt yang terkandung dalam endapan campuran hidroksida yang dikenal sebagai mixed hydroxide precipitates (MHP), sebagai bahan baku baterai electric vehicle (EV). 

Baca Juga  Respons Brisia Jodie & Chef Alden Usai Awkarin Unggah Foto Serah Terima Jabatan

Selain itu, nickel and cobalt salts akan digunakan untuk memproduksi prekursor bahan aktif katoda (PCAM) dan bahan aktif katoda (CAM) untuk baterai litium-ion yang digunakan pada kendaraan listrik.

No More Posts Available.

No more pages to load.