Lalu istilah al-insan yang meliputi kata-kata sejenis seperti, al-ins, an-nas dan al-unas. Menurut Ibnu Manzur, kata al-insan mempunyai tiga asal kata.
Pertama, berasal dari kata anasa yang berarti absara yaitu melihat, ‘alima yang berarti mengetahui dan isti’zan yang berarti meminta izin. Jika ditinjau dari pengertian anasa, maka manusia itu memiliki sifat-sifat potensial, dan aktual untuk mampu berpikir dan bernalar. Dengan berpikir, manusia akan mengetahui mana yang benar dan yang salah, baik atau buruk.
Kedua, berasal dari kata nasiya yang berarti lupa. Ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai potensi untuk lupa, bahkan hilang ingatan atau kesadarannya. Dan ketiga berasal dari kata an-nus yang berarti jinak, lawan dari kata al-wakhsyah yang berarti buas.
Sedangkan penggunaan kata al-unas dalam Al Qur’an digunakan dalam konteks kelompok manusia, baik sebagai suku bangsa, kelompok pelaku kejahatan, maupun kelompok orang baik dan buruk kelak di akhirat nanti. Ini berarti, bahwa Al Qur’an sudah menetapkan manusia itu makhluk yang suka berkelompok dan cenderung membentuk kelompok sesuai ciri dan persamaannya, seperti persamaan biologis, kebutuhan, kepentingan, suku dan lain-lain.
Setiap jiwa telah ditentukan amalnya yang terdiri dari ajal, rizki, dan keberuntungan atau musibah. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya salah seorang kamu penciptaannya terhimpun dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian sesudah itu ia menjadi segumpal darah beku. Kemudian sesudah itu ia menjadi sepotong daging. Kemudian Allah mengutus Malaikat untuk meniupkan ruh ke dalamnya, dan diperintahkan-Nya untuk menuliskan empat kalimat, yaitu menentukan rizkinya, ajalnya,
dan amalnya, serta musibah atau keberuntungannya” (HR .Muslim).









