***
Dalam konteks keadaban politik, sesungguhnya ibadah puasa mengajarkan kita banyak hal. Salah satu adab batiniah dalam berpuasa adalah jangan berdusta atau membuat kebohongan publik. Di negeri ini kebaikan sungguh menjadi barang mahal. Bahkan antara benar dan salah, baik dan buruk, pantas tidak pantas, banyak dibikin kabur.
Mulai dari ijazah palsu, merusak konstitusi, jual beli jabatan, mengambil uang orang dan mengelak dengan keterangan palsu, menyewa lapak untuk kantong pribadi, mengumbar janji (harapan palsu), ambisi diri, kuasa dan bisnis proyek dan berbagai macam pelajaran yang kita saksikan. Berpolitik
sekedar mengejar hasrat kuasa, sehingga penuh dusta dan tipu muslihat. Politik bukan lagi mendengar suara hati; untuk kebaikan banyak orang, tapi lebih dari sekedar pemuas keserakahan pribadi.
Segala peristiwa hidup dan kehidupan sehari-hari yang terhampar di hadapan kita sungguh sangat sarat dengan pelajaran harus dicermasti dan direnungkan. Karena manusia itu suka bebal dengan keangkuhan dirinya sebagaimana peringatan Allah dalam Al-Quran :”Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup”(QS Al-‘Alaq : 6-7).
Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, seberapa besar puasa bisa menjadi training untuk membebaskan diri dari pengaruh kebiasaan berbohong? Seberapa besar pula kadar kepercayaan kita terhadap tingkat kemungkaran politik, ekonomi dan hukum di daerah ini? Lalu, bagaimana sikap kepatuhan kita terhadap keadaban politik pemimpin kita yang tak bisa lagi dipegang omongannya?









