Pulang

oleh -439 views

Kututup toples terakhir. Semua siap diantarkan ke pelanggan dan sebagian dijual di car free day. Alena dan Aisya membantu membersihkan meja dan mengemasi peralatan. Sementara itu, ibu telah beranjak mengambil air wudhu. Gemericik air membuat kami bergegas menyusulnya. Tak membiarkan ibu menunggu lama. Sebisa mungkin kami tidak membuat ibu kecewa seperti ibu selalu berusaha membuat kami bahagia.

Tidak seperti biasanya ibu beranjak dari sajadah setelah berdoa. Tanpa melepas mukena ibu masuk kamar. Apakah ibu marah? Kutanya ada dua adekku, mereka mengedikkan bahu tidak tahu. Tak ada pilihan, aku kembali membaca ayat-ayat suci sambil mencoba memghentikan pikiranku yang menerka-nerka.

Aku mendongakkan kepala saat ibu melewatiku. Kini beliau duduk berhadapan dengan Alena.
“Ini buat mbak,” ucapnya sambil menyerahkan sebuah kotak berpita merah muda pada Alena. Bukan berarti ibu lebih muda dari Alena tetapi ibu mengajarkan sopan santun pada Aisya. Padaku pun ibu selalu memanggil “mas”.
“Mbak kan enggak ulang tahun.” ucap Alena keheranan. Kulirik Aisya sedikit cemberut tak suka.
“Hadiah karena mbak sudah mulai belajar membaca Al-Quran. Tidak mengeja lagi.” jelas ibu. Aku ingat kalau ibu pernah menjanjikan Al Quran pada Alena dan Aisya kalau mereka sudah mulai belajar membaca Al-Quran. Kulihat mata Alena berbinar-binar. Spontan ia memeluk ibu.
“Terima kasih. Mbak sayang ibu.” ucapnya plus cipika cipiki.
“Sama-sama. Ibu juga sayang mbak.” jawab ibu. Drama ini selalu berulang setiap kami menerima sesuatu dari ibu. Aku dan Aisya ikut-ikutan berpelukan. Kami persis teletubles.

No More Posts Available.

No more pages to load.