Pindah ke Mangga Dua, suasananya berubah jadi lebih hangat, lebih membumi. Di balik pagar rumah dinas gubernur yang rapi, hidup berjalan santai di lorong-lorong kompleks. Di pangkalan, kaka-kaka kompleks duduk melingkar, menawarkan segelas sopi buat adik-adik yang baru mulai belajar tentang dunia. Bukan buat mabuk, tapi sebagai cara untuk duduk bersama, berbagi cerita, dan saling jaga—dengan gaya khas orang Ambon: jujur, keras, tapi penuh hati.
Naik lagi ke Urimesing, menuju Siwang Paradise—tempat di mana kota ini terlihat seperti lukisan yang tenang. Dari atas sini, laut memantulkan cahaya sore, tanjung terlihat anggun, dan pohon-pohon menyebar seperti permadani hijau. Udaranya sejuk, jauh dari panas kota. Di tempat ini, Ambon terasa lebih pelan, lebih damai, lebih tenang dari apapun .
Ambon adalah surga yang disembunyikan dengan sederhana. Di Pantai Natsepa, angin laut menyatu dengan aroma rujak yang baru diulek—menghadirkan nostalgia yang manis dan segar. Di Pintu Kota, batu karang berdiri bisu namun gagah—menyimpan suara gelombang, dan rahasia para pelaut yang dulu menyebut Ambon sebagai “mutiara timur.”
Gunung, laut, dan awan berkumpul, menyepakati bahwa Ambon adalah tempat bagi mereka yang mencari damai, dan mereka yang ingin pulang ke sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.









