Mengapa defenisi David Easton lebih mendalam ketimbang Harold Laswell? Karena defenisi Easton sudah mengarah kepada pengalokasi nilai-nilai, seperti kesejahteraan, keadilan, pemerataan, dan lainya, melalui otoritas yang legal (otoritatif), alias sudah masuk kepada proses bagaimana politik bekerja untuk tujuan-tujuan yang lebih luas.
Sementara Harold Laswell lebih fokus pada proses bagaimana aktor-aktor mencapai tujuan politik pribadi dan kelompok, yang lebih banyak dikiblati para surveyor politik hari ini, seperti bagaimana peluang si A terpilih atau peluang si B digandeng pemenang pemilihan, dan sejenisnya.
Kendati demikian, kedua sudut pandang sama-sama dianggap mewakili defenisi politik karena memiliki konteks politik pada masing-masing proses yang ada. Toh terbukti pada reshuflle kali ini, Harold Laswell lebih mewakili fakta yang ada ketimbang David Easton.
Masalahnya, apakah dari konteks Harold Laswell akan bisa dengan mulus beralih ke konteks David Easton? Apakah setelah bagi-bagi kursi akan ada proses alokasi nilai-nilai? Apakah di tangan Zulkifli Hasan Kementerian Perdagangan akan lebih berpeluang menghadirkan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran untuk semua pihak (rakyat) yang termaktup di dalam sistem perdagangan nasional? Atau apakah di tangan Hadi Tjahjanto akan lebih terbuka peluang untuk menghadirkan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, good governance, dan kemakmuran bagi semua stake holder (rakyat) di dalam ekosistem pertanahan nasional?









