Saat Harga Diri Dimenangkan, Kemanusiaan Disisihkan

oleh -16 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Ada keputusan negara yang kelihatannya administratif, dingin, nyaris teknis. Tetapi sesungguhnya ia adalah keputusan paling telanjang secara moral. Menyebut atau menolak menyebut sebuah bencana sebagai bencana nasional bukan soal istilah. Ia adalah cermin watak: apakah negara memilih menyelamatkan manusia, atau memilih mempertahankan citranya sendiri.

Banjir bandang di Sumatera–Aceh memperlihatkan cermin itu tanpa sisa. Pemerintah memilih berkata bahwa keadaan masih bisa ditangani sendiri. Tidak perlu pelibatan asing. Tidak perlu membuka pintu bantuan internasional. Kalimat itu terdengar percaya diri, bahkan patriotik. Namun di hadapan kenyataan lapangan, kepercayaan diri itu terasa getir—karena ia berdiri berseberangan dengan penderitaan yang tak tertangani secara memadai.

Baca Juga  Gol Tunggal Mane Antar Senegal ke Final Piala Afrika 2025

Dalam wawancara dengan wartawan senior Hersubeno Arif dari FNN, Prof. Hamid Awaludin mengingatkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu diingatkan berulang kali, bahwa bencana adalah persoalan kemanusiaan. Ia menyebutnya humanity solidarity–solidaritas kemanusiaan. Sebuah pijakan yang tidak sibuk menjaga martabat simbolik negara, melainkan memastikan bahwa manusia yang tertimpa musibah tidak dibiarkan sendirian.

No More Posts Available.

No more pages to load.