Setelah perbincangan itu, seketika suasana di dalam mobil kembali hening. Mobil telah berhenti tepat di depan rumah Iyan dan disinilah mereka berpisah. “Sekali lagi makasih ya Ri atas tumpangannya, sebagai gantinya kamu duluan deh yang baca lanjutannya tapi nanti kalau sudah selesai jangan lupa kasih ke aku ya, aku juga penasaran”, ucap Iyan penuh berterima kasih atas pertemuan tadi. “Gak masalah, kalau buat kamu mah tiap hari juga aku rela jadi supir pribadimu”, canda sang pemuda menawan itu. “Bisa aja si uda ini hahah, ya sudah aku masuk dulu ya. Selamat malam, Dokter Fahri”, pamit Iyan seraya melangkah kaki ke pintu rumah. “Sampai jumpa besok, Dokter Iyan”, balas sang psikiater.
“Siapa itu nak?”, tanya sang Ibunda yang sedari tadi menatap putri kesayangannya diantar oleh pemuda tampan dibalik jendela. “Astaghfirullah kaget Iyan, sejak kapan mama disini?”, ucap Iyan terkejut sebab mamanya tiba-tiba saja muncul dari belakang. “Terserah mama dong mau berdiri dimana, yang tinggal disini juga bukan cuma kamu aja kan”, Balas Tessa, Mama dari kedua anak Baswara. Memang benar bahwa Iyan masih tinggal di bawah atap rumah orangtuanya. Sementara abangnya, Raki memiliki keluarga kecilnya sendiri. Iyan dibolehkan untuk tinggal di luar rumah rumah dengan syarat sesudah ia mendapatkan suami atau menikah.









